FILM “PRETTY BOYS” LAHIR DARI KEPRIHATINAN TERHADAP DUNIA PERTELEVISIAN SAAT INI

0
4

Setelah merilis poster yang mendapat komentar positif serta trailer yang sudah ditonton
hingga 639 ribu views dalam kurun waktu seminggu, film Pretty Boys pun mulai
memperkenalkan para karakternya melalui poster karakter yang dirilis di akun Instagram
@prettyboyspictures.

This slideshow requires JavaScript.

Poster karakter tersebut adalah Rahmat Maha Esa (Deddy Mahendra Desta) dan Anugerah
Santoso (Vincent Rompies). Keduanya merupakan sahabat dari kecil dan memiliki mimpi yang sama, yaitu ingin masuk TV dan terkenal. Meski punya mimpi yang sama, namun tujuannya berbeda. Rahmat membayangkan bahwa menjadi terkenal akan membuatnya dikelilingi wanita-wanita cantik serta dikagumi dan dielu-elukan mereka, sementara Anugerah ingin masuk TV dan terkenal agar bisa disandingkan dengan nama-nama pembawa acara idolanya, seperti Koes Hendratmo, Nico Siahaan, Bob Tutupoli, Sonny Tulung, dan sederet nama terkenal lainnya di dunia pertelevisian Indonesia. Akan tetapi, perjuangan untuk terkenal tentu tidak mudah. Saat sudah masuk TV pun, mereka masih harus menghadapi berbagai halangan dan rintangan yang tidak sesuai hati nurani mereka. Akankah mimpi Rahmat dan Anugerah menaklukkan dunia pertelevisian membuahkan hasil?

Bagi Deddy Mahendra Desta atau yang lebih dikenal Desta, bukan tanpa alasan ia memilih
tema pertelevisian di produksi pertamanya sebagai produser ini. Tema ini dipilih berangkat
dari keprihatinan Desta serta para koleganya terhadap tayangan-tayangan televisi sekarang yang ia anggap kurang mendidik, seperti bertengkar di televisi, bullying, drama reality show setting-an yang terkadang berlebihan, hingga berpakaian atau berdandan yang tidak sesuai kodratnya.

“Generasi muda adalah golongan usia yang mudah terbawa arus dengan apa yang mereka
lihat, misalnya tayangan di televisi. Meski sudah banyak media hiburan, tapi televisi tetap media hiburan yang paling banyak diminati dan bisa diakses siapa saja, mulai dari orang
dewasa hingga anak-anak. Namun, semakin ke sini, televisi mulai menampilkan tayangan yang tidak mendidik. Perusahaan TV seakan berlomba-lomba menghadirkan tayangan yang kurang mendidik generasi penerus. Semua itu dilakukan hanya demi kepentingan rating dan share.

Perusahaan TV terancam mati saat mencoba menghadirkan tontonan yang berbeda. Penonton tidak tertarik menyaksikan program-program yang berbeda. Film Pretty Boys ini menjadi semacam ungkapan terhadap keresahan tersebut. Jadi, TV-kah yang menodai kita atau kita yang menodai TV? Apakah kita memang sedang mengalami Kehancuran Dunia Televisi?” pungkas Desta.

Hancurnya Dunia Pertelevisian bisa disaksikan lewat PRETTY BOYS mulai 9 September 2019 di bioskop-bioskop seluruh Indonesia.

Leave a Reply