Survei “ Kondisi Bisnis Perusahaan Jepang di Asia dan Oseania” Tahun 2019 (Survei Tahun ke-33) Mengenai Kondisi Perusahaan Jepang di Indonesia

by -14 views

Jakarta 11 Februari 2020 “warnaplus.com” – Responden survei ini meliputi seluruh perusahaan-perusahaan dan kantor cabang serta perwakilan perusahaan Jepang, dengan rasio minimal investasi langsung maupun tidak langsung dari Jepang sebesar 10%, yang beroperasi di 20 negara dan kawasan berikut ini: Asia Timur 5 negara Asia Tenggara (ASEAN) 9 negara Asia Barat 4 negara Oseania 2 negara ■Jumlah Jawaban Valid Diperoleh 5,697 jawaban valid dari total keseluruhan 13,458 perusahaan responden. Adapun untuk Indonesia ada 614 jawaban valid dari total 1,726 perusahaan responden. ■Daftar Pertanyaan

①. Perkiraan Pendapatan Operasional Perusahaan

②. Prospek Pengembangan Bisnis

③. Masalah Manajemen

④. Pengadaan Bahan Baku dan Komponen

⑤. Kondisi Ekspor Impor,

⑥. Dampak dari Perubahan Iklim Perdagangan

⑦. Produktivitas dan Inovasi

⑧. Penggunaan Data Pribadi dan Perusahaan

⑨. Upaya dalam Pengembangan Pasar Lokal

⑩. Upah

⑪. Keuntungan dan Resiko pada Iklim Investasi

⑫. Ekspektasi Kebijakan terhadap Pemerintahan Joko Widodo Periode Kedua

This slideshow requires JavaScript.

 

Poin Utama Hasil Survei Perusahaan Jepang di Indonesia

  1. Keuntungan terbesar dalam iklim investasi di Indonesia masih berupa skala pasar/potensi pertumbuhan pasar, sedangkan resikonya masih berupa lonjakan biaya tenaga kerja
  2. Sentimen bisnis perusahaan Jepang menurun, sedangkan motivasi untuk ekspansi bisnis sedikit meningkat
  3. Kenaikan upah pekerja masih menjadi masalah manajemen yang terbesar
  4. Sebagian besar perusahaan mengharapkan perlunya kebijakan fasilitasi perdagangan
  5. Rendahnya tingkat kepuasan terhadap upah minimum dibandingkan produktivitas
  6. Pengembangan SDM Engineer sangat dibutuhkan
  7. Ekspektasi kebijakan terhadap pemerintahan Joko Widodo periode kedua:

perluasan infrastruktur, pengendalian tingkat kenaikan upah minimum, sistem bisnis yang sangat transparan dan dapat diprediksi.

Penjelasan Poin Utama Hasil Su

rvei

  1. Keuntungan terbesar dalam iklim investasi di Indonesia masih berupa skala pasar/potensi pertumbuhan pasar, sedangkan resikonya masih berupa lonjakan biaya tenaga kerja ➢ Keuntungan dalam iklim investasi di Indonesia yang masih tetap tertinggi adalah “skala pasar potensial / potensi pertumbuhan pasar” yang mencapai 83.4%. Angka ini tertinggi kedua setelah India (90.7%) di antara negara ASEAN, Asia Barat, dan Oseania. Kemudian disusul oleh “biaya tenaga kerja yang rendah” sebesar 23.3% dan “kemudahan perekrutan karyawan (pekerja umum, staf umum, pegawai kantor dll)” sebesar 22.1%. ➢ Keuntungan berupa “skala pasar / potensi pertumbuhan pasar” yang mencapai 58.4% merupakan yang tertinggi di seluruh negara responden, kemudian disusul oleh “situasi sosial dan politik yang stabil” (43.7%) dan “lingkungan tinggal yang sangat baik untuk ekspatriat” (31.7%). Negara dengan “situasi sosial dan politik yang stabil” ditempati oleh Singapura (82.6%) dan Australia (81.9%), sedangkan “lingkungan tinggal yang sangat baik untuk ekspatriat” ditempati oleh Singapura, Malaysia, dan Thailand yang masing-masing mencapai lebih dari 50%. ➢ Resiko dalam iklim investasi di Indonesia yang tertinggi adalah “lonjakan biaya tenaga kerja” yang mencapai 76.9%, naik dari tahun sebelumnya. Angka ini adalah yang tertinggi di antara negara ASEAN, Asia Barat, dan Oseania. Selanjutnya disusul oleh “sistem perpajakan dan persoalan pajak yang rumit” (61.1%), “manajemen kebijakan pemerintah daerah yang tidak pasti” (58.6%), dan “infrastruktur yang belum berkembang” (53.4%). ➢ “Lonjakan biaya tenaga kerja” yang mencapai 61.4% merupakan resiko terbanyak yang dihadapi oleh perusahaan di seluruh negara responden, yang disusul oleh “manajemen kebijakan pemerintah daerah yang tidak pasti” (35.4%) dan “infrastruktur yang belum berkembang” (34.6%). Negara dengan resiko “lonjakan biaya tenaga kerja” yang tertinggi ditempati oleh Indonesia (76.9%), Australia (76.4%), dan Singapura (73.6%) yang masing-masing mencapai lebih dari 70%. Penjelasan Poin Utama Hasil Survei Konferensi Pers JETRO Jakarta 11 Feb 2020 4 (Grafik 1)Keuntungan dan resiko utama dalam ikli investasi di Indonesia.
  2. Sentimen bisnis perusahaan Jepang menurun, sedangkan motivasi untuk ekspansi bisnis sedikit meningkat ➢ Persentase perusahaan Jepang di Indonesia dengan perkiraan pendapatan operasional perusahaan yang “untung” di tahun 2019 sebanyak 69.1%, terus mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya. Akan tetapi nilai DI* yang menunjukkan sentimen bisnis berada pada 14.2 poin, yang mana turun 13.5 poin dari tahun sebelumnya. (*) DI adalah singkatan dari Diffusion Index, yang merupakan nilai yang diperoleh dengan mengurangi persentase perusahaan yang menjawab “memburuk” dari persentase perusahaan yang menjawab “membaik”. Index ini menunjukkan bagaimana perubahan sentimen bisnis tersebut. ➢ Persentase perusahaan di seluruh negara responden dengan perkiraan pendapatan perusahaan yang menjawab “untung” di tahun 2019 sebesar 65.5%, turun 2.6 poin dari 68.1% (hasil tahun 2018). Nilai DI berada pada 3.3 poin yang turun signifikan dari tahun sebelumnya sebesar 23.6 poin. ➢ Persentase perusahaan yang menjawab akan melakukan ekspansi bisnis dalam 1-2 tahun mendatang, menurun di seluruh negara, kecuali di Indonesia. (Grafik 3) Rasio perusahaan yang mengalami keuntungan di beberapa negara utama. 3. Kenaikan upah pekerja masih menjadi masalah manajemen yang terbesar ➢ Masalah manajemen perusahaan di Indonesia masih didominasi oleh “kenaikan upah pekerja” sebesar 84.0%. Selanjutnya disusul oleh “pengadaan lokal bahan baku dan komponen yang sulit” (59.4%) dan “beban perpajakan (seperti PPh Badan, pajak transfer pricing, dll)” (55.9%). ➢ Jika dibandingkan dengan negara lain, Indonesia menempati posisi tertinggi di antara negara responden dalam masalah “kenaikan upah pekerja” sebesar 84.0%. Selanjutnya disusul oleh Kamboja (75.7%) dan Tiongkok (73.7%). ➢ Dalam masalah “pengadaan lokal bahan baku dan komponen yang sulit”, Indonesia (59.4%) menempati urutan kelima besar setelah Bangladesh (70.8%), Laos (70.6%), Kamboja (70.3%), dan Myanmar (65.4%). ➢ Dalam masalah “beban perpajakan (seperti PPh badan, pajak transfer pricing, dll)”, Indonesia menempati posisi tertinggi di antara negara responden sebesar 55.9%. Selanjutnya disusul oleh Pakistan (46.2%) dan Filipina (43.8%).
  3. Sebagian besar perusahaan mengharapkan perlunya kebijakan fasilitasi perdagangan ➢ Persentase perusahaan Jepang di Indonesia yang menjawab “perlu” dengan kebijakan fasilitasi perdagangan sebesar 88.5%, berada pada posisi kedua setelah Pakistan (96.0%). ➢ Dari uraian kebijakan yang diperlukan tersebut diatas, yang berada pada urutan tertinggi adalah “meningkatkan informasi tentang sistem dan prosedur perdagangan” (53.6%), “memberikan pemahaman yang sama tentang evaluasi klasifikasi tariff” (44.0%), “menerapkan sistem administrasi yang maju dan dapat dimanfaatkan” (43.4%), “percepatan dan penyederhanaan prosedur untuk mendapatkan ijin impor” (41.4%). ➢ Khususnya pada “percepatan dan penyederhanaan untuk mendapatkan ijin impor” yang tertinggi ditempati oleh Myanmar (44.3%) dan Bangladesh (43.9%).
  4. Rendahnya tingkat kepuasan terhadap upah minimum dibandingkan produktivitas ➢ Apabila nilai produktivitas perusahaan di Jepang 100, maka produktivitas di Thailand dan Vietnam masing-masing mencapai 80.1 dan 80.0, sedangkan di Indonesia hanya 74.4, yang berada pada urutan ketiga terendah di kawasan ASEAN. ➢ Dalam hal produktivitas, dari pertanyaan mengenai kelayakan upah minimum yang ditetapkan oleh pemerintah di tiap negara dan kawasan, presentase negara yang paling banyak menjawab “layak dan sesuai” adalah Filipina (74.2%), Laos (66.7%), dan Myanmar (60.9%), dimana negara-negara ini memiliki bisnis yang berkembang di industri pengolahan untuk tujuan ekspor, yang memanfaatkan biaya tenaga kerja yang relatif rendah sehingga berada pada posisi tertinggi. ➢ Sementara itu, presentase perusahaan di Indonesia yang menjawab “tidak layak dan sesuai” dan “tidak tahu” mencapai 76.2%. Ini merupakan nilai tertinggi jika dibandingkan negara lain.

Pengembangan SDM Engineer sangat dibutuhkan ➢ Di tengah lonjakan biaya tenaga kerja maka penting untuk dilakukan upaya meningkatkan produktivitas dengan memanfaatkan teknologi digital. Dari pertanyaan mengenai teknologi digital (cloud, robot, EC, dll) yang digunakan dalam bisnis di tiap negara, sebanyak 18.5% perusahaan manufaktur Jepang di Indonesia relatif banyak telah menggunakan robot. ➢ Selain itu, perusahaan Jepang di Indonesia yang menjawab “sudah bekerja dengan sistem otomasi dan melakukan penghematan tenaga kerja, serta menggunakan robot dll di line produksi”, atau yang menjawab “sedang mempertimbangkan” mencapai 72.5%. Di kawasan ASEAN, Indonesia berada pada peringkat ketiga besar setelah Malaysia dan Filipina. ➢ Dari pertanyaan yang berkaitan dengan penyebab hambatan investasi di sektor digital, perusahaan Jepang di Indonesia yang menjawab “tidak memiliki SDM Engineer yang handal dalam teknologi digital” sebesar 40.29%, yang mana lebih tinggi dari nilai rata-rata  Kondisi sistem otomasi dan penghemat. (Iko Muhyidin

Leave a Reply