Tiga sutradara Asia membawa penonton Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-13 ke dalam sebuah perjalanan lintas budaya melalui film pendek mereka yang tergabung dalam omnibus “Asian Three-Fold Mirror 2018” yang tayang di Empire XXI Yogyakarta di hari Senin siang (03/12).

This slideshow requires JavaScript.

Omnibus berdurasi 83 menit dari eksekutif produser Satoru Iseki ini .merupakan proyek bersama Japan Foundation Asia Center dan Tokyo International Film Festival. Edisi tahun ini yang bertemakan Journey atau Perjalanan menjadi kali kedua omnibus tersebut diproduksi.
Perjalanan dalam omnibus ini tidak selalu bermakna perjalanan fisik, namun juga penggambaran bagaimana karakter manusia merespon perubahan. Perubahan, atau
Disruption, adalah tema besar yang diusung JAFF tahun ini. Karena itu, perpaduan dari kedua tema besar tersebut membuat omnibus ini menarik untuk disimak. Sebanyak 151 orang
memadati Studio 4 di Empire XXI pada pemutaran internasional perdana dari omnibus tersebut.

Rangkaian omnibus ini dimulai dengan “The Sea” karya sutradara dari China, Degena Yun yang bercerita tentang perjalanan seorang ibu dan putrinya menuju pesisir pantai di timur dari Beijing. Percakapan yang terjadi selama perjalanan terus mengalir hingga akhirnya menyentuh topik mengenai si ayah dan kerabat lainnya yang baru saja meninggal. Kesedihan ini kemudian menyebabkan kemarahan yang menggebu-gebu.

Film kedua adalah “Hekishu” karya sutradara asal Jepang, Daishi Matsunaga, yang bercerita soal seorang lelaki Jepang bernama Suzuki yang bermukim sementara di tengah Yangon, Myanmar. Sebagai karyawan untuk sebuah perusahaan kereta api, ia menjadi simbol perubahan yang cepat dan dinamis. Sementara itu, Su Su, gadis yang tak sengaja Suzuki temui di pasar dan kemudian menarik perhatiannya, adalah penggambaran Yangon, atau\ daerah manapun yang sesungguhnya tidak perlu berubah terlalu cepat. Melalui pertemuan tersebut, Suzuki pun kembali mempertanyakan tujuan hidupnya.

Omnibus ini ditutup dengan “Variable No. 3” dari Edwin yang berasal dari Indonesia. Sutradara yang telah melahirkan berbagai karya seperti “Blind Pig Who Wants to Fly,” “Postcard from the Zoo,” “Posesif” dan “Aruna dan Lidahnya” kerap bermain dengan cara bertutur yang unik. Film pendek ini bercerita tentang pasangan suami istri Edi dan Sekar, diperankan oleh Oka Antara dan Agni Pratistha, yang tengah berlibur ke Jepang. Di sana, mereka tinggal di sebuah penginapan milik Kenji, seorang keturunan Indonesia dan Jepang yang juga seorang peneliti soal hubungan pernikahan kontemporer. Mengetahui tamunya adalah pasangan suami istri yang tengah menghadapi masalah keintiman, Kenji pun berbagi hasil penelitiannya dengan Edi dan Sekar. Kenji kemudian hadir dengan sebuah solusi yang cukup kontroversial untuk sebuah hubungan pernikahan.

Bagi Edwin, “Variable No 3” adalah sebuah eksplorasi terhadap keintiman dan zona tidak nyaman yang cukup jarang ditemui di sinema Indonesia. Edwin bercerita bahwa proses pembuatan film ini pertama kali dilakukan melalui rapat via Skype. Ia membahas tema Perjalanan dengan dua sutradara lainnya melalui Skype. Setelah itu, mereka lanjut untuk menulis skrip masing-masing.
“Saya rasa bekerja dengan kru yang berbeda masalahnya ada di komunikasi. Ini menjadi lebih kompleks karena keterbatasan bahasa. Saya pribadi ada semacam pengalaman syuting yang cukup repot di Tokyo ketika ada adegan intim dan privasi. Di Jepang, perizinan syuting sangat susah dan harus detail,” cerita Edwin.

Sineas Mai Sai yang mewakili sutradara Degena Yu mengatakan bahwa pertamakali bertemu dengan semua crew, ikut project ini, dan bekerja dengan Tokyo International Film Festival
menambah pengalaman baru. “Project ini menambah pengalaman dari berbagai negara yang berbeda cerita, dan berbeda budaya,” ungkap Mai Sai.

Setelah penayangan di Yogyakarta, film ini kemungkinan akan rilis di tahun 2019 untuk penonton di Indonesia. Selain itu, ada juga rencana untuk membaca film ini ke China dan
Myanmar, tempat di mana dua cerita di dalam omnibus ini berasal.

https://Indonesianmotorshow.com

Laris Manis di Ajang Festival Internasional JAFF (Jogja Netpac Asian Film Festival), Film Keluarga Cemara buat Penonton Berderai Air Mata!

Yogyakarta 29 November 2018 – Film Keluarga Cemara pada 29 November 2018 dan 1 Desember 2018, ditayangkan untuk umum khusus di ajang JAFF (Jogja Netpac Asian Film Festival). Film produksi Visinema Pictures bekerjasama dengan Ideosource dan Kaskus ini tayang jam 19:00 WIB pada hari Kamis 29 November di Studio A Empire XXI dan jam 13:00 hari Sabtu 1 Desember 2018 di studio B, juga di Empire XXI Yogyakarta. Di luar dugaan, sesi pertama pada Kamis kemarin ini sold out, alias laris manis.

This slideshow requires JavaScript.

Penayangan ini juga dihadiri oleh Anggia Kharisma, Nirina Zubir, Yandy Laurens, Keluarga The Sasono, Gina S. Noer dan Angga Dwimas Sasongko. Film Keluarga Cemara sebelumnya sudah mengadakan world premiere di ajang JAFF pada hari Selasa, 13 November 2018 di Plaza Indonesia, Jakarta. Tidak hanya itu filmnya juga berkompetisi dalam kategori ISA (Indonesian Screen Awards) di JAFF.

Sesudah pemutaran pada hari Kamis, penonton secara spontan menyanyikan lagu “Harta Berharga” secara bersama-sama, seperti direkam oleh pemilik akun Twitter @pecintasendja. Pemilik akun tersebut juga menyebutkan bahwa “#KeluargaCemara sebuah film dengan akting kuat, akting mantab, penuh kejutan, hangat sekaligus menyentuh. Rekomen buat ditonton besok tanggal 3 Januari 2019. Oh ya ada yang iris-iris bawang di dalam bioskop bikin yang nonton matanya pada sembab”. Sebuah komentar yang positif sekaligus menandakan betapa tersentuhnya penonton oleh film ini.

Komentar penonton lain di ajang JAFF juga senada, yakni positif. Salah seorang penonton menuliskan di akun Twitter @VincentJose mencuitkan “They have found the original material’s silver lining and utilized it to develop such solid yet relevant plot and characters. I’m overwhelmed by its simplicity, innocence and warmth. Bagus bangeet!!!” (Mereka telah menemukan benang merah dari materi orisinilnya dan menggunakannya untuk mengembangkan karakter dan plot yang solid. Saya kagum akan kesederhanaan, kenaifan dan kehangatannya. Bagus bangeet!!!”)

Deraian air mata dari mereka yang beruntung menyaksikannya sebelum tayang secara umum pada 3 Januari 2019 ini juga dirasakan oleh mereka yang mereview lewat story Instagram. Contohnya oleh pemilik akun @dianeka2291 yang kagum akan kualitas suara dan berkomentar “Ini bikin drama filmnya ngena banget…udah berusaha buat nahan ga mewek, eh akhirnya netes juga”. Lalu pemilik akun @anggarizkif menuliskan di Instagram story-nya: “@filmkeluargacemara, definisi kembali ke keluarga yang sesungguhnya, sangat heartwarming dan related untuk keluarga jaman sekarang, asli bagus banget. Chemistry semuanya dapet, terutama Euis dan Ara. Aku cinta mereka juga!”

Menyambut tayang di ajang JAFF, sutradara Yandy Laurens yang juga turut serta menuliskan naskahnya mengucapkan, “Film Keluarga Cemara mendapat kesempatan untuk menjadi bagian dari JAFF adalah sebuah kebanggaan”. Sebagai catatan, ini adalah film panjang pertama Yandy Laurens.
Dalam kesempatan yang sama, Anggia Kharisma sebagai produser film Keluarga Cemara berkata: “Kami berterimakasih pada JAFF atas kesempatan yang diberikan pada film Keluarga Cemara untuk tayang. Apalagi filmnya masuk dalam kategori ISA (Indonesian Screen Awards), ini merupakan sebuah hal yang berharga bagi kami” kata Anggia. Gina S. Noer sebagai produser dan penulis naskah film Keluarga Cemara menyatakan, Terpilihnya film Keluarga Cemara di JAFF menunjukkan bahwa nilai baik dalam kisah film ini merupakan representasi ketangguhan keluarga yang dibutuhkan dalam menghadapi kondisi Indonesia bahkan dunia saat ini".

Film Keluarga Cemara mengisahkan cerita tentang sebuah keluarga yang memiliki nilai ketangguhan. Dalam kisah ini seluruh keluarga belajar bersatu untuk bertahan hidup dalam kesederhanaan. Bukan untuk sekadar hidup, tapi hidup dengan berani dan penuh harapan. Ada Abah (Ringgo Agus Rahman) sebagai kepala rumah tangga yang berusaha menjadi nahkoda rumah tangga di tengah terpaan masalah sehari-hari, Emak (Nirina Zubir) yang sangat pengertian dan menjadi oase di tengah masalah, Euis (Zara JKT 48) sebagai anak tertua yang punya cita-cita tinggi dan Ara (Widuri Puteri) yang paling muda selalu ceria dan senang berpetualang. Kebersamaan mereka menjadi kunci dalam menghadapi permasalahan yang ada.

Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) adalah festival film berskala internasional di Indonesia yang memfokuskan diri pada perkembangan film di Asia. JAFF sudah bekerjasama dengan NETPAC (Network for the Promotion of Asian Cinema), sebuah organisasi beranggotakan 30 negara yang mencakup budaya, distribusi, pembuatan film dan pendidikan soal film.
Setiap tahun JAFF memberikan penghargaan untuk film-film terbaik di Asia dengan Golden Hanoman Award, Silver Hanoman Award, NETPAC Award, Blencong Award dan Geber Award sebagai apresiasi. Ini adalah edisi ke 13 JAFF yang rutin dilaksanakan setiap tahun. Hanya tinggal sekali lagi kesempatan menonton film Keluarga Cemara di JAFF, yakni besok tanggal 1 Desember 2018 jam 13:00 di Empire XXI. Setelah tayang di ajang JAFF, tunggu film Keluarga Cemara yang akan rilis pada 3 Januari 2019 ini di bioskop-bioskop kesayangan Anda! #KeluargaCemara adalah kado terbaik keluarga untuk mengawali tahun 2019.

Diadaptasi dari serial TV populer “Keluarga Cemara” karya Arswendo Atmowiloto
Film : Keluarga Cemara
Sutradara : Yandy Laurens
Penulis Skenario : Gina S. Noer, Yandy Laurens
Produser pelaksana : Syaiful Wathan
Produser pendamping : Nurita Anandia W, Ajeng Parameswari
Produser eksekutif pendamping: Ronny Wilimas Sugiadha, Hasan Yahya, Moelyono Soesilo
Produser eksekutif: Andi Boediman, Pandu Birantoro, Rahadian Agung, Mandy Marahimin
Produser eksekutif: Angga Dwimas Sasongko, Gita Wirjawan
Produser: Anggia Kharisma, Gina S. Noer
Pemeran: Ringgo Agus Rahman, Nirina Zubir, Zara JKT48, Widuri Puteri, Maudy Koesnaedi,
Asri Welas, Yasamin Jasem, Kafin Sulthan
Instagram: @FilmKeluargaCemara
Twitter: @FilmKelCemara

Sekilas Tentang Visinema Pictures
Visinema Pictures adalah perusahaan film berbasis di Jakarta yang berdiri sejak tahun 2008, dan memproduksi berbagai film, program televisi, video musik, dan berbagai materi audio visual untuk perusahaan dan brand. Kami bertujuan menjadi pemain regional pada tahun 2019. Film yang kami hasilkan merupakan kombinasi antara aspek artistik dan komersial.

Visinema Pictures mengembangkan film dengan pendekatan kolaborasi melalui konsep co-production dan branded content. Bagi kami, hal itulah yang mendefinisi industri film hari ini.
Karya Visinema Pictures diantaranya, Cahaya dari Timur: Beta Maluku yang dinobatkan sebagai pemenang kategori Film Terbaik dan Aktor Terbaik pada FFI 2014, Filosofi Kopi yang
memenangkan kategori Penyunting Gambar Terbaik dan Penulis Skenario Adaptasi Terbaik pada FFI 2015, dan Surat dari Praha yang memenangkan kategori Film, Aktor, dan Sutradara Terbaik Usmar Ismail Award 2016 serta mewakili Indonesia di Oscar 2017 untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik.

Yogyakarta, 27 November 2018 – Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) yang ke-13 resmi dibuka pada 27 November 2016 di Jogja National Museum.

This slideshow requires JavaScript.

Acara dimulai pukul 19.00 WIB dan dibuka dengan tarian Hanoman yang ditampilkan oleh siswa-siswa SMK 1 Yogyakarta. Tahun ini, JAFF kembali mengangkat sinema Asia dengan menjadikan “Disruption” sebagai tema utama. Menurut Budi Irawanto selaku festival president dari JAFF, tema ini mengajak penonton festival untuk meretas perubahan.

Film “The Man from the Sea” karya sutradara Jepang Koji Fukada menjadi film pembukaan JAFF kali ini. Film yang dibintangi oleh Sekar Sari dan Adipati Dolken ini terpilih menjadi film pembuka sebagai wujud dari misi merayakan sinema Asia.

Di edisinya yang ke-13, JAFF akan memutar 146 film dari 27 negara dan sejumlah program edukasi, talkshow, dan kuliah umum yang tersebar di tiga lokasi utama, yaitu Jogja National Museum, Empire XXI dan Cinemaxx. JAFF selalu ditunggu-tunggu oleh para penikmat film di Indonesia karena acara ini adalah satu-satunya festival film di Indonesia yang konsisten mendatangkan film-film terbaik dari berbagai negara di Asia.

Mulai 28 November besok, penonton sudah bisa menikmati berbagai film berkualitas yang telah diseleksi oleh JAFF. Beberapa program unggulan JAFF, seperti Asian Feature, Light of Asia dan Asian Perspectives akan membawa penontonnya menyelami sebuah dunia kreasi yang lain dari deretan hiburan yang biasanya disajikan industri layar perak di Indonesia. Program Asian Feature yang dikhususkan sebagai kompetisi film panjang fiksi dari sutradara-sutradara terbaik di Asia akan menghadirkan film-film seperti “27 Steps of May,” “Die Tomorrow,” “The Song of
Grassroots” dan “Ave Maryam.”

Sementara itu, program Light of Asia sebagai ajang kompetisi bergengsi bagi pembuat film pendek di JAFF akan membawa sejumlah karya yang menjanjikan, seperti “A Gift,” “The Moon is Bright Tonight” dan “Facing Death with Wirecutter.”
Khusus film-film Indonesia terpilih, JAFF juga menghadirkan Indonesian Screen Awards sebagai wujud apresiasi terhadap sineas lokal yang berhasil berkarya dan memajukan perfilman Indonesia. Tahun ini, “Love for Sale,” “Aruna dan Lidahnya,” “Keluarga Cemara” dan sejumlah film Indonesia lainnya akan saling adu kreasi untuk mendapatkan penghargaan dari JAFF. Program non kompetisi seperti Asian Perspectives adalah bukti wujud kepedulian JAFF terhadap perkembangan sinema dunia. Beberapa film apik yang terdapat di kategori ini termasuk “Istri Orang,”
“Father to Son” dan “Golden Memories.”

Sutradara Garin Nugroho menjadi tokoh dalam Focus On, sebuah program tahunan yang menyorot karir perfilman seorang sineas yang dinilai berkontribusi besar terhadap sejarah perfilman. JAFF kali ini menjadi kesempatatn langka untuk menyaksikan sejumlah film pendek yang pernah Garin buat di masa-masa awalnya sebagai sineas. Sejumlah film panjang Garin yang mencatat sejarah, seperti “Cinta dalam Sepotong Roti,” “Aku Ingin Menciummu Sekali Saja” dan “Mata Tertutup” juga kembali hadir khusus untuk penonton di JAFF. Garin juga akan menayangkan film terbarunya, “Kucumbu Tubuh Indahku” yang baru-baru ini diluncurkan di Venice Film Festival.

Tahun ini, JAFF menghadirkan sejumlah program spesial di mana mereka berkolaborasi dengan sejumlah pihak yang peduli terhadap perkembangan sinema. Salah satunya adalah program Art for Children yang merupakan hasil kerjasama JAFF dengan Kineno International Children’s Film Festival di Jepang. Program ini bertujuan untuk menyajikan film yang bisa dinikmati oleh anak dari usia satu tahun hingga dewasa.

Program Respect Japan, yang merupakan hasil kerjasama dengan Japan Foundation, menghadirkan film “Shoplifters” karya sutradara pemenang penghargaan di Cannes Film Festival, Hirokazu Kore-Eda dan “Tokyo Story,” film dari tahun 1953 karya Yasujiro Ozu. Selain itu, ada juga program Shanghai International Film Festival yang menyajikan sejumlah sinema dari China seperti “Birds in Mire” dan “The Road Not Taken.”

Selain itu, program spesial lainnya adalah Layar Klasik, di mana penonton bisa menyaksikan kembali empat film lama yang punya nilai sejarah tinggi untuk sinema Asia dan sudah direstorasi, deretan film pendek pilihan di Return to the Salt Boy, Hukla in Motion yang merupakan interpretasi sinematik dari puisi-puisi Leon Agusta, Layar Komunitas dan Special Gala untuk film “Love is a Bird” dan “Daysleepers.”

JAFF mengajak semua pencinta sinema untuk hadir di festival film yang akan berlangsung selama seminggu ini. Selain menonton film di bioskop, ada juga sejumlah program khusus seperti Open Air Cinema, Forum Komunitas, dan JAFF Education yang juga akan memberikan tambahan ilmu di luar penayangan layar.

Untuk sejumlah kelas di program edukasinya, JAFF telah berhasil mendatangkan sineas ternama yang siap berbagi ilmu, seperti Reza Rahadian, Ernest Prakasa, Gunnar Nimpuno, Robin Moran, Buadi, Ian Wee dan Bertrand Dauphant.
Tiket online untuk sejumlah film sudah ludes terjual, namun JAFF memastikan ada kesempatan untuk penonton yang bersedia datang lebih dulu untuk membeli tiket di lokasi penayangan sesuai waktu yang telah ditentukan.

Mari menonton sinema Asia bersama sesama pecinta film di Yogyakarta.

Yogyakarta, 26 November 2018 – Sebagai festival film internasional terbesar di Indonesia, Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) pada tahun ini bukan hanya akan menayangkan 124 film dari 27 negara, tapi juga menaruh kepedulian terhadap pendidikan di bidang film. Hal ini dibuktikan dengan diadakannya JAFF Education, yakni sebuah program non-pemutaran yang berfokus pada perkembangan pembuatan film melalui edukasi tentang perfilman.

Program JAFF Education perdana ini akan menghadirkan para pembicara yang merupakan sineas maupun aktor ternama dari dalam maupun luar negeri. Mereka antara lain Ernest Prakasa, Reza Rahadian, Robin Moran, Ian Wee, Buadi, Gunnar Nimpuno, Bertrand Dauphant, dan Dave Brown.

Para pembicara JAFF Education ini juga memiliki kiprah yang sudah tidak diragukan lagi di dunia perfilman. Ernest Prakasa kini bukan saja dikenal sebagai aktor dan komika, tapi juga sutradara dan penulis skenario yang mumpuni. Ia diganjar Piala Citra FFI 2017 sebagai penulis skenario asli terbaik melalui film Cek Toko Sebelah (2016).
Reza Rahadian juga sudah melekat di banyak kepala banyak orang sebagai aktor yang selalu bermain bagus dalam setiap perannya. Hingga sekarang, Reza telah mengantongi empat Piala Citra berkat kemampuan aktingnya dalam film Perempuan Berkalung Sorban (2009), 3 Hati Dua Dunia Satu Cinta (2010), Habibie & Ainun (2012), My Stupid Boss (2016).
Gunnar Nimpuno (akrab dipanggil Unay) adalah sinematografer kenamaan Tanah Air saat ini yang memulai kariernya di dunia periklanan. Ia piawai menerapkan gaya visual dengan pendekatan realis dokumenter maupun sytlish yang indah untuk berbagai genre film. Karya-karyanya antara lain Sang Pemimpi (2009), Modus Anomali (2012), Atambua 39 Derajat Celsius (2012), The Killers (2014), Kulari ke Pantai (2018), hingga The Night Comes for Us (2018).

Robin Moran adalah pembuat film dengan sejumlah penghargaan. Ia menaruh perhatian pada detail-detail elemen visual, storytelling, serta peduli pada proses regenerasi pembuat film di Indonesia. Berkat FOCUSED Equipment yang didirikannya, sudah banyak sineas yang jadi melahirkan film dengan gaya visual yang lebih kaya.

Buadi berpengalaman sebagai gaffer sejak 1980 di industri televisi dan periklanan di Indonesia. Ia juga sudah pernah terlibat dalam produksi skala internasional, seperti serial Chef Table milik Netflix yang dibuat di Bali. Ia pun fokus mengulik teknologi terbaru LED digital lighting dan mengikuti pelatihan ARRI Lighting di Hong Kong pada tahun ini.

Ian Wee adalah sutradara, pengajar, dan konsultan. Dia memahami soal teknologi baru digital dan menerapkan semaksimal mungkin dalam produksi film yang ikut ditanganinya, baik dokumenter maupun fiksi. Berbekal pengalaman sebagai Managing Director Widescreen Media Pte Ltd di Singapura, ia kerap membagikan pengetahuan tentang workflow, post-production, RAW, dan stereostopic 3D supaya film tersajikan dengan baik di layar bioskop.

Bertrand Dauphant menjabat sebagai General Manager of Lighting ARRI Asia Pasific sejak 2015. Ia memiliki spesialisasi dalam hal teknis dan penjualan di industri lighting, terutama pada peralatan kontrol pencahayaan bioskop dan produksi film. Sementara Dave Brown sudah makan asam garam sebagai gaffer dalam produksi film-film blockbuster skala internasional, seperti trilogi The Lord of the Rings, King Kong, Avatar, District 9, hingga The Hobbit. Melalui film Ghost in the Shell, ia pertama kali menggunakan teknologi LED ARRI.
Dalam program anyar JAAF Education ini, para pembicara tersebut bakal membagikan pengetahuan dan pengalaman berharganya kepada para peserta. Program ini terbagi dalam format masterclass yang terdiri dari tiga workshop (Mastering Your Film, Digital Lighting, Introduction Skypanel) dan kelas (Akting dan Penulisan Skenario).
JAFF mengajak rekan-rekan media untuk melakukan peliputan di sejumlah program edukasi yang tertera di bawah selama festival berlangsung. Wawancara dengan narasumber harus dilakukan dengan mengajukan permohonan ke tim publikasi JAFF (tertera di bawah).

Daftar Lengkap Program JAFF Education 2018:
1. Acting Class bersama Reza Rahadian Sabtu, 1 Desember 2018 Jogja National Museum 10.00 – 16.00 WIB Rp 300,000 untuk 20 orang terpilih
2. Scriptwriting Class bersama Ernest Prakasa Senin, 3 Desember 2018 Jogja National Museum 10.00 – 17.00 WIB Gratis untuk 20 orang terpilih
3. Workshop: Mastering Your Film bersama Robin Moran dan Ian Wee Jumat, 30 November 2018 Jogja National Museum 10.00 – 17.00 WIB Rp 250,000

4. Workshop: Digital Lighting bersama Buadi dan Gunnar Nimpuno Minggu, 2 Desember 2018 Jogja National Museum 10.00 – 17.00 WIB Rp 500,000
5. Workshop: Introduction Skypanel bersama Bertrand Dauphant dan Dave Brown Sabtu, 1 Desember 2018 Jogja National Museum 14.00 – 18.00 WIB Gratis

Yogyakarta, 25 November 2018 – Sejumlah film panjang maupun pendek karya sutradara ternama Garin Nugroho akan ditayangkan kembali ke publik selama Jogja-Netpac Asian Film
Festival (JAFF) berlangsung pada 27 November hingga 4 Desember 2018.

Melalui terobosannya dalam film-film seperti “Cinta dalam Sepotong Roti” (1990) dan “Daun di Atas Bantal” (1998), Garin telah sukses meletakkan film Indonesia di peta sinema dunia. Budi Irawanto selaku presiden dari JAFF mengatakan bahwa ketika “Cinta dalam Sepotong Roti” dirilis, layar perak sinema Indonesia memasuki sebuah era yang baru.
“Ini karena belum pernah ada preseden sebelumnya, dan film ini amat berbeda dengan kebanyakan film yang tengah beredar. Garin membuat film ini di bawah pengaruh gaya New Wave dari Perancis yang menyuarakan kegelisah kaum muda di era rezim Orde Baru yang represif,” “Cinta dalam Sepotong Roti” sukses menyabet Piala Citra sebagai Film Terbaik di tahun 1991. Melalui film ini, Garin juga mendapat penghargaan Sutradara Muda Terbaik di Asia Pacific Film Festival.

Prestasi Garin sebagai seorang sutradara kemudian menjadi jauh melampaui batas kota dan negara asalnya. Karya-karyanya banyak tampil di berbagai festival film di seluruh dunia hingga bagi penikmat sinema global, nama Indonesia begitu lekat dengan sosok Garin sebagai sutradara berbakat. Karene itulah, Budi menjuluki Garin sebagai “Sang Juru Peta Sejarah” untuk sinema Indonesia.

Sepanjang karirnya, Garin senantiasa rajin mendobrak batas-batas dalam sinema. Garin secara konsisten melakukan eksplorasi estetika sinema sekaligus mengangkat aspek-aspek sejarah Indonesia sebagai latar dari sejumlah film yang ia buat. “Setan Jawa,” “Nyai,” (2016) dan “Guru Bangsa: Tjokroaminoto” (2015) mengambil latar periode penjajahan Belanda.
“Soegija” terjadi di era peralihan pendudukan Jepang, tepat sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia. Sementara itu, “Puisi Yang Tak Terkuburkan” (2000) menyorot peristiwa pembunuhan massal di tahun 1965. Selain topik sejarahnya, film ini juga tercatat sebagai film yang menggunakan kamera video Betacam untuk kemudian ditransfer ke dalam pita seluloid (35 mm), sebuah langkah yang kemudian banyak ditiru sutradara muda karena menjamin proses syuting yang lebih efisien.

Garin juga memiliki kepedulian terhadap corak budaya di berbagai era. “Daun di Atas Bantal” dan “Generasi Biru” (2009) menggambarkan kehidupan masyarakat Indonesia di akhir masa kekuasaan Orde Baru. “Mata Tertutup” mewakili keresahan banyak orang terhadap radikalisme agama dan perang terhadap terorisme yang menjadi topik dominan di tatanan global semenjak serangan 11 September 2001.

Tidak tanggung-tanggung, Garin juga menunjukkan dedikasinya terhadap gaya dramaturgi seni pertunjukan tradisional di film “Nyai” (2016) di mana pengambilan gambar dilakukan hanya sekali tanpa terputus. Sementara itu, “Setan Jawa” (2018) adalah kolaborasi medium film dan kelompok gamelan atau orkestra yang bermain secara langsung selama pemutaran, sebuah dedikasi lain dari Garin untuk film-film klasik seperti “Nosferatu” karya F. W. Murnau dan “Metropolis” karya Fritz Lang.

Karya Garin yang terbaru, “Kucumbu Tubuh Indahku” (2018) adalah sebuah film yang mewakili gerakan kaum minoritas seksual. Film ini berhasil masuk ke dalam sebuah sesi
kompetisi bergengsi Orizzonti Competition di Venice Film Festival pada 29 Agustus – 8 September lalu.
Kentalnya semangat eksplorasi, eksprimentasi dan avant garde di setiap karya dari Garin Nugroho menyebabkan sang sutradara kerap dikritik hanya ingin memuaskan dewan juri di kacah festival internasional. Namun, film-film Garin senantiasa beriringan dengan perubahan politik, sosial dan teknologi yang terjadi di masyarakat lokal maupun global.

JAFF mengajak penikmat sinema untuk kembali menyimak karya-karya Garin yang monumental selama festival berlangsung di Yogyakarta mulai 27 November hingga 4 Desember 2018. Dengan menonton film-film ini, kita bisa ikut ke dalam sebuah perjalanan artistik dan kultural yang tidak pernah mengenal kata henti.

Berikut daftar lengkap karya-karya Garin yang akan ditayangkan di JAFF tahun ini.
Film Panjang:
1. “Cinta Dalam Sepotong Roti” (1990) Jumat, 30 November – Empire XXI Studio B – 16.00
2. “Surat Untuk Bidadari”/“A Letter for an Angel” (1994) Minggu, 2 Desember – Cinemaxx Cinema A – 19.00
3. “Puisi Tak Terkuburkan”/“A Poet: Unconcealed Poetry” (1999) Kamis, 29 November – Empire XXI Studio B – 13.00
4. “Aku Ingin Menciummu Sekali Saja”/“Bird-man Tale” (2002) Kamis, 29 November – Empire XXI Studio A – 16.00
5. “Opera Jawa” (2006) Rabu, 28 November – Cinemaxx Cinema A – 16.00

6. “Mata Tertutup”/“The Blindfold” (2011) Kamis, 29 November – Empire XXI Studio A – 10.00
7. “Guru Bangsa: Tjokroaminoto” (2015) Kamis, 29 November – Empire XXI Studio B – 13.00
8. “Kucumbu Tubuh Indahku”/“Memories of My Body” (2018) Senin, 3 Desember — Empire XXI Studio A – 19.00
Selasa, 4 Desember — Cinemaxx Cinema A – 10.00

Film Pendek: Sabtu, 1 Desember — Cinemaxx Cinema A – 13.00
1. “Gerbong 1,2,…/Railway Coaches 1,2,…” (1985, 13 menit)
2. “Aikon: Sebuah Peta Budaya/Icon: A Cultural Map” (1995, 55 menit)
3. “Dongeng Kancil Untuk Kemerdekaan” (1995, 55 menit)
4. “My Family. My Film. My Nation” (1998, 35 menit)

MENONTON SINEMA ASIA DEMI MERETAS PERUBAHAN

Jakarta, 13 November 2018 – Festival film tahunan Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) akan kembali merayakan sinema Asia Pasifik di sejumlah lokasi di Daerah Istimewa
Yogyakarta mulai tanggal 27 November hingga 4 Desember 2018.
Di usianya yang ke-13, JAFF mengusung tema “Disruption” yang menempatkan film festival ini sebagai usaha bertindak terhadap sejumlah perubahan yang melanda benua Asia dalam
satu dekade terakhir. Perubahan yang mencakup bencana alam, kemelut politik, tragedi kemanusiaan dan juga perubahan teknologi tersebut secara masif telah membentuk lansekap sosial dan budaya di Asia. “Kami ingin mengajak para penonton untuk mengikis bias masing-masing dengan cara menonton sinema Asia. Tentunya, kami berharap dari kegiatan menonton ini bisa lahir visi-
visi baru tentang masyarakat dan budaya Asia. Tema ‘Disruption’ ini bukan perkara menanggapi perubahan, melainkan soal meretas perubahan itu sendiri,” ujar Budi Irawanto sebagai festival president JAFF tahun ini.

This slideshow requires JavaScript.

Sebagai wujud dari misi merayakan sinema Asia, JAFF memilih film “Umi O Kakeru” (“The Man from the Sea”) sebagai film pembuka festival mereka tahun ini. Film berbahasa Jepang, Indonesia dan Inggris ini adalah karya terbaru sutradara asal Jepang, Koji Fukada, setelah film terakhirnya, “Harmonium,” mendapatkan penghargaan Un Certain Regard Jury Prize di Cannes Film Festival pada tahun 2016. Film drama berdurasi 107 menit ini dibintangi oleh Dean Fujioka, Mayu Tsuruta, Sekar Sari dan Adipati Dolken.

“Umi O Kakeru” bercerita tentang kehidupan di Banda Aceh yang tiba-tiba kedatangan seorang juru selamat tak bernama (Dean). Ia kemudian dikenal sebagai Laut. Seorang pekerja sosial bernama Takako (Mayu) mendengar soal Laut dari Ilma (Sekar), seorang wartawan yang tengah bertugas di Banda Aceh. Namun, terlepas dari kemagisan Laut, film “Umi O Kakeru” ini meletakkan fokusnya kepada drama kehidupan Ilma yang kemudian bersahabat dengan putra Takako yang bernama Takashi (Taiga). Ilma sendiri baru saja mengakhiri hubungannya dengan Chris (Adipati), yang juga berteman dengan Takashi. Chris sendiri sebenarnya menyimpan perasaan kepada Sachiko (Junko Abe), sepupu Takashi yang tengah berkunjung pertama kalinya ke Indonesia.

Tahun ini, JAFF akan menghadirkan 124 judul film yang akan ditayangkan di sejumlah bioskop dan luar bioskop di Yogyakarta. Sejumlah program andalan JAFF, seperti Asian Feature, Light of Asia, Asian Perspective, JAFF Indonesian Screen Awards, dan Open Air Cinema akan memastikan kemeriahan festival yang akan berlangsung selama seminggu ini.
Sutradara sekaligus pendiri JAFF Garin Nugroho menjadi sorotan dalam program Focus on Garin Nugroho yang akan menayangkan sejumlah film terbaik dari Garin.

“Sebagai sebuah festival yang dinamis, perkembangan secara program pun terus dilakukan. Tahun ini, secara resmi JAFF meniadakan program Asiam Doc yang berfokus kepada dokumenter di Asia dan menggabungkan ke dalam program Asian Perspective untuk program non kompetisi. Sementara untuk program kompetisi, masih sama seperti tahun lalu JAFF terbagi ke dalam kompetisi JAFF atau Asian Feature, lalu ada kompetisi NETPAC dan Geber Award”, jelas Ismail Basbeth selaku Program Director JAFF.

Selain program pemutaran film, JAFF juga memiliki spesial program diantaranya Art for Children, Public Lecture, dan Forum Komunitas. Tahun ini JAFF memiliki program baru pada kategori spesial program yaitu JAFF Education yang berisi workshop penulisan skenario bersama Ernest Prakasa, kelas akting bersama Reza Rahadian, dan beberapa program Masterclass yang berhubungan dengan teknis pembuatan film.

Salah satu suguhan spesial dalam negeri yang akan hadir di JAFF tahun ini adalah “Keluarga Cemara,” sebuah film karya Yandy Laurens yang diadaptasi dari sinetron yang sangat populer di Indonesia pada tahun 1996 hingga 2005. Produksi terbaru Visinema Pictures ini dibintangi oleh Ringgo Agus Rahman dan Nirina Zubir yang berperan sebagai Abah dan Emak. Kehidupan mereka yang baik-baik saja terpaksa harus berubah karena suatu masalah yang menimpa Abah. Anak-anak mereka, termasuk Euis (Zara JKT 48) dan Cemara atau Ara (Widuri Puteri), harus pindah sekolah dan menyesuaikan diri dengan keadaan barunya.
Sesuai latar lagu ikonik “Harta Berharga” yang dinyanyikan ulang oleh Bunga Citra Lestari, produser Anggia Kharisma menjelaskan bahwa film “Keluarga Cemara” mengangkat nilai-nilai kehidupan dari pengalaman sehari-hari. “Film ini menghargai kebersamaan keluarga sebagai harta yang paling berharga dan mengajak penontonnya untuk selalu bersyukur dalam keadaan apapun,” ujar Anggia.

Terpilihnya film “Keluarga Cemara” dalam program penayangan di JAFF merupakan kesempatan lebih awal untuk menyaksikan film ini sebelum nantinya tayang secara umum pada tanggal 3 Januari 2018.
Sebagai festival film terbesar di Indonesia, tahun ini JAFF turut diramaikan oleh 27 negara , yakni Australia, Bangladesh, Bhutan, Bosnia, China, East Timor, India, Indonesia, Iran, Irak, Israel, Italia, Jepang, Kazakhstan, Kyrgyztan, Malaysia, Myanmar, Nepal, Philipina, Singapura, Korea Selatan, Srilanka, Switzerland, Taiwan, Thailand, Vietnam, dan USA .

Mari ikut bergabung dengan JAFF di Yogyakarta dan rayakan identitas kita melalui sinema Asia.