Produksi pertama akan dilaksanakan pada tahun 2019

Jakarta, November 2018 – Aktor yang juga pengusaha, Dian Sastrowardoyo bersiap melakukan debutnya sebagai produser bekerja sama dengan BASE Entertainment. Kerja sama ini diumumkan di media gathering yang diadakan di Go-Work Menara Rajawali pada hari Selasa, 27 November.

This slideshow requires JavaScript.

BASE Entertainment yang fokus pada kegiatan pendanaan, pengembangan cerita dan IP (Intellectual Property), serta distribusi film di Indonesia mengajak Dian Sastrowardoyo untuk melakukan co-production 3 proyek film layar lebar selama 3 tahun ke depan. Shanty Harmayn yang menawarkan Dian untuk bergabung mengatakan, “Sudah setahun lebih saya dan Dian bincang-bincang tentang keinginan Dian untuk menjadi produser. Saya kenal Dian sudah sangat lama dan mengikuti perkembangannya dari awal. Hal ini menurut saya adalah langkah yang tepat dan organik untuk Dian.”

Bagi Dian, kerja sama ini adalah sebuah kesempatan yang tak bisa dilewatkan. “Mbak Shanty adalah mentor yang mengajarkan banyak hal. Selain film, banyak yang tidak tahu bahwa saya juga sempat jadi volunteer ticketing untuk JIFFEST yang diinisiasi olehnya. Jadi saya rasa dia orang yang tepat untuk debut saya sebagai produser.”

Dian yang sudah hampir dua dekade berada di industri film melihat iklim sehat yang sedang terjadi dalam industri sebagai kesempatan yang baik untuk terjun ke industri sebagai produser. “Saya melihat ini adalah waktu yang exciting untuk berkarya sebagai produser. Saya ingin memadukan background finance, entrepreneurship dan sisi kreatif saya untuk memberikan sumbangsih dalam industri film.”

Shanty Harmayn menjelaskan bahwa industri sekarang sedang menarik, “Pasar mempunyai permintaan yang tinggi akan creative content. Kesempatan emas ini harus disambut dengan menghasilkan karya-karya berkualitas dengan penuh keragaman. Kita pelaku industri harus dapat memberikan yang lebih baik lagí dari apa yang kita telah kerjakan. Semua bertumpu pada kreativitas, wawasan dan upaya kita memperbaiki atau menambah skill set kita” Ia menekankan, “Peran produser kreatif yang kuat sangatlah dibutuhkan di dalam kesempatan ini.”

Dian menceritakan bahwa pengalamannya sebagai aktor akan ia pergunakan untuk karier barunya di balik layar. Meski begitu, ia juga menceritakan bahwa banyak hal baru yang dialaminya dan membuatnya semakin mengerti mengenai pembuatan film. “Saya baru pertama kali berpartisipasi di writing room, mengikuti proses development di mana produser kreatif dan penulis menggodok ide. Ini adalah sebuah perspektif baru bagi saya karena belum pernah melihat cerita film dari sudut pandang ini,” ceritanya antusias. Ia menambahkan, “Saya melihat proses ini dibutuhkan untuk perkembangan saya di industri film. Saya ingin lebih dari hanya di depan kamera saja.”

Film pertama yang akan diproduseri oleh Dian Sastrowardoyo dan BASE Entertainment adalah Guru-Guru Gokil yang bergenre komedi. Film ini akan ditulis oleh Rahabi Mandra (Peraih Piala Citra 2017 Untuk Penulis Skenario Adaptasi Terbaik untuk film Night Bus). Film ini akan diproduksi di tahun 2019.
***

Tentang Dian Sastrowardoyo
Pekerja Seni, Pengusaha, ibu dari dua anak Lahir di Jakarta pada 16 Maret 1982, Dian Paramita Sastrowardoyo memulai karier di dunia hiburan saat berusia 14 tahun ketika memenangkan kontes bakat yang diselenggarakan oleh salah satu majalah remaja di Indonesia.
Film pertama Dian adalah “Bintang Jatuh” (Sutradara Rudy Soedjarwo, 2000), disusul dengan “Pasir Berbisik” (Sutradara Nan Achnas), “Ada Apa dengan Cinta” (Sutradara Rudy Soedjarwo) dan sampai sekarang Dian telah membintangi belasan film serta memenangkan beberapa penghargaan, antara lain: Special Jury Award For The Most Promising Actress, 50th Asia Pasific Film Festival 2005 di Kuala Lumpur, Best Actress Category- Deauville Asian Film Festival 2002 di Perancis, Best Actress-Singapore International Film Festival 2002 di Singapura, dan Aktris Terbaik di Festival Film Indonesia 2002.

Tahun 2017, Dian kembali bermain film dan memerankan tokoh pahlawan perempuan Kartini, dalam film dengan judul sama (Sutradara Hanung Bramantyo, 2017), dan proyek terakhir Dian adalah film layar lebar “Aruna Dan Lidahnya” (Sutradara Edwin, 2018) tayang September 2018 serta sebagai salah satu aktor pendukung dalam film “The Night Comes For Us” (Sutradara Timo Tjahjanto, 2018) yang saat ini tengah diputar di Netflix.

Dian juga aktif di bidang pendidikan, usaha, dan kegiatan sosial yang bermuara pada bidang pendidikan, pemberdayaan perempuan, dan budaya Indonesia. Terlepas dari popularitas serta jadwalnya yang padat, Dian selalu menetapkan keluarga sebagai prioritas pertama. Ia menetap di Jakarta bersama suami dan dua anak.

Tentang BASE Entertainment
Sebuah studio film baru yang merupakan gabungan (merger) dari tiga perusahaan film, SALTO FILMS yang didirikan oleh Shanty Harmayn (produser, “Garuda di Dadaku”, “Sang Penari”), MILLION PICTURES oleh Ben Soebiakto dan Aoura Chandra (produser, “Negeri 5 Menara”), dan KAWI CONTENT berbasis di Singapura yang didirikan oleh Tanya Yuson.

BASE selalu bekerja dengan talenta terbaik untuk menciptakan intellectual properti dari Indonesia. Saat ini BASE Entertainment tengah berkolaborasi dengan Joko Anwar untuk tiga film terbaru nya, “Impetigore”, “The Vow”, dan “Ghost In The Cell” serta tengah mempersiapkan serial anime terbaru untuk Netflix, “Trese”.

Rahabi Mandra
Memulai kariernya di industri film pada tahun 2013 sebagai sutradara dan penulis skenario. Film panjang pertamanya berjudul “2014” (2014) mendapat nominasi untuk Skenario Terbaik di Festival Film Bandung 2015. Karya terbaru yang ia sutradarai adalah welcoming video (presiden naik motor menuju GBK) untuk opening ceremony Asian Games 2018. Peraih Piala Citra 2017 untuk Penulis Skenario Adaptasi Terbaik lewat film “Night Bus” ini pernah menjabat sebagai Kepala Program Studi salah satu kampus film di Jakarta dan sekarang bekerja sebagai Head Writer di Base Entertainment.

https://Indonesianmotorshow.com

Jakarta, 14 November 2018 – Dua bintang muda, Michelle Ziudith dan Rizky Nazar akan kembali hadir dalam film terbaru Screenplay Films bergenre drama komedi, yaitu Calon Bini. Film ini merupakan film drama komedi pertama bagi Michelle dan Rizky.

This slideshow requires JavaScript.

Film Calon Bini merupakan ‘comeback’ keduanya setelah sekian lama tidak bermain dalam satu film. Michelle dan Rizky. Keduanya juga mengaku senang bisa kembali dipertemukan dalam sebuah proyek kembali.
“Kita udah lama banget ga ketemu, terakhir 2 tahun lalu pas shooting film London Love Story 2, dan sekarang kita main film bareng lagi,” kata Rizky. “Main lagi di film Calon Bini pasti seru banget sama Rizky,” Michelle menambahkan.

Dalam film Calon Bini yang disutradarai oleh Asep Kusdinar, Michelle akan berperan sebagai Ningsih, sosok gadis cantik asal Jogjakarta yang mempunyai mimpi setinggi angkasa. Namun Pak Le Agung (Ramzi) punya keinginan lain yaitu menikahkan Ningsih dengan anak Pak Kades (Butet Kertaradjasa). Karena kendala ekonomi, Ningsih memutuskan untuk kabur ke Jakarta. Dalam perjalanan ke Jakarta, ia bertemu dengan seorang cowok ganteng di dalam kereta. Pasca kepergian Ningsih ke Jakarta, sebaliknya menimbulkan masalah buat Pak Le Agung yang merupakan mak comblang-nya Ningsih kepada anaknya Pak Kades.

Di Jakarta, Ningsih bekerja di tempat seorang konglomerat bernama Pak Prawira (Slamet Rahardjo) yang tinggal bersama mertuanya (Niniek L Karim) dan setiap hari selalu ribut dengan menantunya. Kehadiran Ningsih merubah segalanya.

Dalam film drama komedi ini, Michelle bermain dengan gaya yang berbeda, tuntutan karakternya sebagai Ningsih keluar dari zona nyamannya yaitu cinta-cintaan belaka. Nantikan kelanjutan kisah Ningsih dan bocoran film Calon Bini selanjutnya. Film Calon Bini turut dibintangi oleh sederet bintang lain yakni Slamet Rahardjo, Niniek L karim, Cut Mini, Dian Sidik, , Minati Atmanegara, Butet Kertaradjasa, Ramzi, Maya Wulan, Yuniza Icha, dan special appearance Antonio Blanco, cucu pelukis terkenal Antonio Blanco. Film Calon Bini tengah memasuki tahap produksi, proses shooting sedang berlangsung di sejumlah wilayah Jabodetabek dan Jogjakarta. Rencananya film Calon Bini akan dirilis di bioskop pada 2019.

Jakarta, 16 November 2018 — Nama Timo Tjahjanto sebagai sutradara kian diperhitungkan di kancah perfilman internasional. Dua film terakhir yang disutradarai Timo yakni The Night Comes For Us dan Sebelum Iblis Menjemput atau May The Devil Take You mendapat apresiasi luar biasa baik dalam negeri bahkan dunia. Kedua film ini pun telah dirilis di platform streaming
terbesar dunia, Netflix dan sukses mencuri perhatian internasional.

This slideshow requires JavaScript.

Baru-baru ini situs film ternama, Decider.com memuat berita mengenai Timo dengan judul With ‘May the Devil Take You,’ Timo Tjahjanto Is the Hottest Genre Director on Netflix. Menurut isi berita situs ini, Timo Tjahjanto dinilai sebagai sutradara paling diminati di film-film bergenre action dan horror. (https://decider.com/2018/11/15/may-the-devil-take-you-director-timo- tjanjanto/)

Dalam situs film lainnya, Bloody-disgusting.com, Timo Tjahjanto dianggap selevel dengan film-maker ternama Hollywood, Sam Raimi, sutradara serial horor Evil Dead. Sam Raimi-esque
‘May the Devil Take You’ Just Hit Netflix, demikian judul berita yang dibuat oleh Bloody-disgusting.com.(https://bloody-disgusting.com/home-video/3533734/sam-raimi-esque-may devil-take-just-hit-netflix/)

Sebelum dirilis perdana di Netflix, film May The Devil Take You sudah lebih dulu mendapat pujian di festival-festival film kelas dunia diantaranya L’Etrange Festival Paris, US Fantastic Festival, BFI London Film Festival. Film yang dibintangi Chelsea Islan dan Pevita Pearce ini juga telah memenangkan penghargaan sebagai film terbaik dalam kategori Midnight XTreme di SITGES Film Festival of Catalonia 2018.

Menilik sebulan sebelumnya, tayang lebih dahulu Film The Night Comes For Us. Film ini yang merupakan film original Netflix pertama dari Indonesia. Rilis perdana pada 19 Oktober, film yang dibintangi Joe Taslim dan Iko Uwais ini mendapat score 86% dari kritikus film di laman Rotten Tomatoes, dan memperoleh rating 4.3 dari total 5 oleh 505 reviewers.

Kepiawaian Timo menggabungkan skenario. action, drama dan slasher dengan sinematografi apik sepanjang film The Night Comes For Us sampai-sampai menyita perhatian kreator film
Deadpool, Robert Liefield. Ia mengungkapkan kekagumannya atas karya Timo, tak segan-segan dia menyarankan Timo agar menjadi sutradara film Deadpool 3. Liefield menilai masa depan film-film bergenre action ada di tangan Timo Tjahjanto.
Indonesia patut berbangga memiliki Timo Tjahjanto, sosok sutradara dengan track record yang diisi dengan banyaknya prestasi dan apresiasi atas film-film yang digarapnya. Timo kini menjadi sutradara yang digandrungi di dunia internasional, akan menjadi menarik dan patut ditunggu karya-karya Timo Tjahjanto selanjutnya.

Aktor “Mission: Impossible” Jeremy Renner Adakan Makan Malam dalam Rangka Pembukaan Paramount Hotels & Resorts Indonesia di Bali

This slideshow requires JavaScript.

Bali, 12 Oktober 2018 — Bintang Hollywood Jeremy Renner yang dikenal sebagai William Brandt di film seri “Mission: Impossible” dan juga Hawkeye dalam film seri “The Avengers” baru-baru ini mengadakan acara makan malam di sebuah resor mewah di Bali.

Jeremy, selaku aktor yang beberapa judul filmnya didistribusikan oleh Paramount Pictures, bertindak sebagai tuan rumah dari acara makan malam yang berjudul “The Silver Screen in Paradise,” atau “Layar Perak Paradiso.” Acara makan malam yang diselenggarakan secara tertutup di Bvlgari Resort Bali tersebut dihadiri oleh tamu kehormatan Bapak Ricky Pesik selaku Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Indonesia, dan sejumlah pemuka industri kreatif nasional dan internasional. Acara jamuan tersebut menjadi ajang bertemunya para produser dan sutradara film dari Indonesia, Asia dan Hollywood untuk dapat saling menggali kemungkinan berkolaborasi di masa akan datang.

Bagi Paramount “Layar Perak Paradiso” adalah sebuah perayaan kesuksesan mereka dalam menghantarkan berbagai kreasinya ke layar lebar seluruh dunia selama 106 tahun terakhir. Dalam kesempatan tersebut, Paramount juga mengumumkan niat mereka untuk membuka sebuah unit usaha baru di bidang properti yang menyasar sejumlah pusat liburan dan resor di Republik Indonesia yang akan bernaung di bawah Paramount Hotels & Resorts.

Thomas van Vliet selaku CEO Paramount Hotels & Resorts (PHR) meyakinkan para hadirin bahwa properti mereka akan mengambil inspirasi dari proses kreatif studio film yang menjadi induk usaha mereka, dan berkomitmen untuk memberikan pengalaman yang menyegarkan bagi para tamunya. “Mencerminkan kaitannya dengan Hollywood, keseluruhan konsep desain semua hotel, resor, dan hunian berperabot akan menghadirkan keanggunan abadi Hollywood dengan gaya kontemporer dan suasana yang dramatis.” sahut van Vliet.

Mewakili Badan Ekonomi Kreatif, Ricky menyatakan ketertarikannya terhadap usaha Paramount dalam bisnis destinasi kreatif properti ini. “Sub sektor “Film, Animasi, dan Video” adalah satu dari banyak bidang yang kami asuh di bawah naungan Badan Ekonomi Kreatif Indonesia. Pembangunan dari sebuah perusahaan film terkenal yang memasuki industri perhotelan ini adalah hal yang sangat menarik, karena ke depannya hal ini akan membuka begitu banyak peluang yang mengasyikkan dan tak terduga.” ujar Ricky.

Tim manajemen PHR akan bermitra dengan PT Amorsk sebagai perusahaan konstruksi yang telah berhasil mengerjakan proyek-proyek tingkat dunia dan mengusung nama Indonesia ke dalam kancah internasional. Kemitraan ini dilakukan melalui Paramount Licensing Inc. yang merupakan divisi lisensi dari Paramount Pictures Corporation di Los Angeles, Amerika Serikat. Melalui kemitraan ini, PT Amorsk mengantongi hak eksklusif untuk membangun hotel, resor dan pemukiman di bawah merek dan manajemen PHR (tidak termasuk hotel-hotel di Lombok).
“Ini akan menjadi pembangunan yang unik dan menarik, tak ada duanya, menggunakan teknologi kreatif dan hiburan yang akan membuat Anda terkagum-kagum, mendukung pariwisata saat ini, esok hari, dan lebih jauh lagi. Mahakarya ini akan melibatkan talenta kreatif lokal maupun internasional.” Komentar dari Saifful Azhar Sabaruddin selaku Group Development Advisor

“Amorsk dan PHR selalu meyakini bahwa sendiri kami hanya bisa menghasilkan sedikit, tetapi bersama-sama kita bisa menghasilkan begitu banyak hal,” Grup mempunyai pengalaman yang luas, lebih 106 tahun dalam dunia kreatifi peringkat dunia dan lebih 10 tahun perniagaan di Indonesia. Kami komited untuk memberikan yang terbaik” komentar dari Syed Nazim Syed Faisal selaku Presiden dan Komisaris PT Amorsk Indonesia.

Sebelum jamuan makan tiga hidangan disajikan, “Layar Perak Paradiso” dimulai dengan tabuhan kenong dan pertunjukkan tari tradisional Bali, serta sebuah penampilan dari penyanyi opera Indonesia, Putri Ayu, yang menyanyikan lagu berjudul “Melati Suci.” Pembukaan ditutup dengan tayangan video dan light show. Setelah makan malam, para tamu turun ke lantai dansa dengan diiringi nyanyian merdu dari penyanyi pop Indonesia, Marcell. Kemeriahan berlanjut hingga larut karena ada jug apula pertunjukan kabaret Bali serta sajian musik yang dimainkan oleh DJ Anton.
Sebagai tuan rumah dari acara jamuan “Layar Perak Paradiso,” Jeremy menyatakan rasa optimisnya terhadap rencana Paramount dalam memasuki indusri properti di Indonesia. “Saya yakin bahwa PT. Amorsk menghadirkan konsep dan pengalaman perhotelan yang tak ada duanya. Pembangunan Hotel, Resor & Permukiman Paramount di Indonesia adalah konsep pengalaman yang saya yakini sejalan dengan hiburan, kreativitas, dan semua nilai-nilai sejati merek Paramount yang legendaris. Saya ingin berterima kasih kepada Pak Saifful dan Pak Syed, PT Amorsk. Pak Thomas Van Vliet, Pak Aridi, Pak Ricky, Pak Jan dan semua pihak yang sudah mewujudkan malam yang penuh keajaiban ini.”

Beberapa selebriti Indonesia yang menghadiri jamuan tersebut antara lain adalah Luna Maya, Raline Shah dan Kelly Tandiono, yang juga turut memberikan ucapan selamat dan sukses atas kemitraan antara PHR dan PT Amorsk.

“Selamat atas pembangunan baru Amorsk dan Paramount Hotels and Resorts di Bali. Saya sangat tertarik untuk mengikuti perkembangan dari kerjasama ini,” sahut Raline Shah.

 

TENTANG PT AMORSK
PT. Amorsk Indonesia awalnya didirikan sebagai usaha pelayanan konstruksi, dengan fokus utama industri infrastruktur dan telekomunikasi. Dalam beberapa tahun terakhir, mereka melakukan diversifikasi dan ekspansi usaha untuk mencakup industri pariwisata dengan misi untuk meningkatkan dan melengkapi keindahan alami Indonesia dengan menciptakan daya tarik baru yang mampu meningkatkan pariwisatanya.

Untuk mewujudkannya, PT Amorsk bermitra dengan para pemuka industri dan memastikan mereka selalu menghasilkan pembangunan dengan kualitas tertinggi. Keahlian PT Amorsk diperkuat dengan kemitraan strategis dengan Serba Dinamik Holdings Berhad. Selain status barunya sebagai perusahaan publik, Serba Dinamik Holdings Berhad juga memiliki fasilitas operasional di Indonesia, Malaysia, UEA, Bahrain, dan Britania Raya. Keahlian global mereka dalam bidang enjiniring dan konstruksi akan mendukung PT Amorsk untuk selalu menghasilkan pembangunan berkualitas tertinggi.

Melalui kemitraannya dengan merek Paramount Hotels & Resorts, tim manajemennya, serta aliansi strategisnya dengan Serba Dinamik, PT. Amorsk berhasil memosisikan perusahaannya untuk mengerjakan proyek-proyek tingkat dunia dan mengusung nama Indonesia ke tingkat internasional.

 

TENTANG PARAMOUNT HOTELS & RESORTS
PHR FZ-LLC yang didirikan dan didaftarkan secara resmi pada 2012 di Dubai berhasil mendapatkan perjanjian jangka panjang eksklusif dengan Paramount Licensing Inc., yang merupakan divisi lisensi Paramount Pictures Corporation, untuk mendirikan jaringan hotel, resor, dan permukiman bermerek Paramount. PHR FZ LLC, yang bermarkas di Dubai, adalah perusahaan perhotelan gaya hidup yang mendukung kekuatan dari segala bentuk kreativitas – desain, layanan, hiburan, teknologi, akomodasi, hidangan, rapat & acara, serta kesehatan & olah raga, untuk memenuhi kebutuhan jiwa-jiwa kreatif para pelancong mewah yang cerdas. Walaupun bukan sebagai investor, Paramount Licensing, Inc. berperan sebagai pemberi lisensi merek dan memberi masukan terhadap penciptaan konsep perhotelan yang baru dan mengasyikan ini.

 

TAMBAHAN ESTIMONI TAMU LOKAL DAN INTERNASIONAL

“Selamat untuk PT Amorsk dan Paramount Hotel & Resorts atas peluncuran proyek resort yang besar dan bergensi. Kami merasa beruntung bisa menjadi bagian dalam perjalanan ini”- Dato Ir Dr Karim, Group CEO Serba Dinamik Holdings Berhad

“Selamat untuk PT Amorks & Paramount Hotels & Resort atas pencapaian dan usaha yang luar biasa. Kami tidak sabar menjadi bagian di dalamnya”- Mr Egoitz Urrutia, Managing Director of Alpha X Investment

“Harapan terbaik untuk Amorsk dan Paramount Hotels Resorts and Residences atas proyek-proyek selanjutnya di Bali, Indonesia. Saya tahu bagaimana kerja keras tim ini untuk dapat berada di posisi ini. Saya berharap Amorsk mendapatkan yang terbaik untuk menjadi masa depan yang cerah bagi Indonesia” – Jonathan Gan, Director HSBC Singapore

Harapan terbaik untuk Amorsk dan Paramount Hotels Resorts and Residences atas proyek-proyek selanjutnya di Bali, Indonesia. Saya tahu bagaimana kerja keras tim ini untuk dapat berada di posisi ini. Saya berharap Amorsk mendapatkan yang terbaik untuk menjadi masa depan yang cerah bagi Indonesia

“Selamat untuk Amorsk dan Paramount atas proyek pertamanya di Bali. Saya yakin ini akan menjadi sukses dan menjadi lahan untuk proyek-proyek lainnya di Indonesia”- Jefferi Hashim, Deputy CEO of CIMB Investment Bank

“Selamat untuk PT Amorks dan Paramount Hotel and Resorts atas proyek pertama di Indonesia. Bali akan menjadi tempat pernikahan yang menakjubkan” – Jackie Eu Ching, Top Fashion Designer Chinese Blockbuster Movie Stars and Golden Horse Film Awards base in Taiwan.

“Selamat untuk Amorks dan Paramount Hotels and Resorts di Bali. Saya sangat senang menjadi bagian dari tim yang membangun proyek indah ini di masa depan”- Marie Helene Prevot, Director Tribe 22 Hong Kong

“Saya tak sabar menunggu pembangunan ini selesai, ini pasti akan menarik.” – Ms. Kelly Tandiono, model, tamu Layar Perak Paradiso

“Selamat dan semoga diberikan yang terbaik bagi Paramount Hotels & Resorts.” – Ms. Luna Maya, aktris & model, tamu Layar Perak Paradiso

“Tahun lalu, data mengindikasikan pertumbuhan secara keseluruhan di Bali sebesar 6,22%, yang artinya ekonomi kita tumbuh lebih tinggi dari rata-rata nasional. Ini sebagian besar berkata industri hotel dan restoran yang memberi kontribusi terbanyak.

Dengan akan dimulainya pembangunan Hotel, Resor & Permukiman Paramount, kami memperkirakan pertumbuhan ini akan meningkat lebih tinggi, dan kami bangga serta dengan senang hati mendukungnya.” – Perwakilan, Dinas Pariwisata Pemerintah Provinsi Bali

“Beribu ucapan selamat untuk PT Amorsk dan PHR untuk menciptakan pengalaman luar biasa pada peluncuran PHR di Bali.” – Zikry Kholil dari Insigment (Forbes 30 Asia), tamu Layar Perak
Paradiso

MENONTON SINEMA ASIA DEMI MERETAS PERUBAHAN

Jakarta, 13 November 2018 – Festival film tahunan Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) akan kembali merayakan sinema Asia Pasifik di sejumlah lokasi di Daerah Istimewa
Yogyakarta mulai tanggal 27 November hingga 4 Desember 2018.
Di usianya yang ke-13, JAFF mengusung tema “Disruption” yang menempatkan film festival ini sebagai usaha bertindak terhadap sejumlah perubahan yang melanda benua Asia dalam
satu dekade terakhir. Perubahan yang mencakup bencana alam, kemelut politik, tragedi kemanusiaan dan juga perubahan teknologi tersebut secara masif telah membentuk lansekap sosial dan budaya di Asia. “Kami ingin mengajak para penonton untuk mengikis bias masing-masing dengan cara menonton sinema Asia. Tentunya, kami berharap dari kegiatan menonton ini bisa lahir visi-
visi baru tentang masyarakat dan budaya Asia. Tema ‘Disruption’ ini bukan perkara menanggapi perubahan, melainkan soal meretas perubahan itu sendiri,” ujar Budi Irawanto sebagai festival president JAFF tahun ini.

This slideshow requires JavaScript.

Sebagai wujud dari misi merayakan sinema Asia, JAFF memilih film “Umi O Kakeru” (“The Man from the Sea”) sebagai film pembuka festival mereka tahun ini. Film berbahasa Jepang, Indonesia dan Inggris ini adalah karya terbaru sutradara asal Jepang, Koji Fukada, setelah film terakhirnya, “Harmonium,” mendapatkan penghargaan Un Certain Regard Jury Prize di Cannes Film Festival pada tahun 2016. Film drama berdurasi 107 menit ini dibintangi oleh Dean Fujioka, Mayu Tsuruta, Sekar Sari dan Adipati Dolken.

“Umi O Kakeru” bercerita tentang kehidupan di Banda Aceh yang tiba-tiba kedatangan seorang juru selamat tak bernama (Dean). Ia kemudian dikenal sebagai Laut. Seorang pekerja sosial bernama Takako (Mayu) mendengar soal Laut dari Ilma (Sekar), seorang wartawan yang tengah bertugas di Banda Aceh. Namun, terlepas dari kemagisan Laut, film “Umi O Kakeru” ini meletakkan fokusnya kepada drama kehidupan Ilma yang kemudian bersahabat dengan putra Takako yang bernama Takashi (Taiga). Ilma sendiri baru saja mengakhiri hubungannya dengan Chris (Adipati), yang juga berteman dengan Takashi. Chris sendiri sebenarnya menyimpan perasaan kepada Sachiko (Junko Abe), sepupu Takashi yang tengah berkunjung pertama kalinya ke Indonesia.

Tahun ini, JAFF akan menghadirkan 124 judul film yang akan ditayangkan di sejumlah bioskop dan luar bioskop di Yogyakarta. Sejumlah program andalan JAFF, seperti Asian Feature, Light of Asia, Asian Perspective, JAFF Indonesian Screen Awards, dan Open Air Cinema akan memastikan kemeriahan festival yang akan berlangsung selama seminggu ini.
Sutradara sekaligus pendiri JAFF Garin Nugroho menjadi sorotan dalam program Focus on Garin Nugroho yang akan menayangkan sejumlah film terbaik dari Garin.

“Sebagai sebuah festival yang dinamis, perkembangan secara program pun terus dilakukan. Tahun ini, secara resmi JAFF meniadakan program Asiam Doc yang berfokus kepada dokumenter di Asia dan menggabungkan ke dalam program Asian Perspective untuk program non kompetisi. Sementara untuk program kompetisi, masih sama seperti tahun lalu JAFF terbagi ke dalam kompetisi JAFF atau Asian Feature, lalu ada kompetisi NETPAC dan Geber Award”, jelas Ismail Basbeth selaku Program Director JAFF.

Selain program pemutaran film, JAFF juga memiliki spesial program diantaranya Art for Children, Public Lecture, dan Forum Komunitas. Tahun ini JAFF memiliki program baru pada kategori spesial program yaitu JAFF Education yang berisi workshop penulisan skenario bersama Ernest Prakasa, kelas akting bersama Reza Rahadian, dan beberapa program Masterclass yang berhubungan dengan teknis pembuatan film.

Salah satu suguhan spesial dalam negeri yang akan hadir di JAFF tahun ini adalah “Keluarga Cemara,” sebuah film karya Yandy Laurens yang diadaptasi dari sinetron yang sangat populer di Indonesia pada tahun 1996 hingga 2005. Produksi terbaru Visinema Pictures ini dibintangi oleh Ringgo Agus Rahman dan Nirina Zubir yang berperan sebagai Abah dan Emak. Kehidupan mereka yang baik-baik saja terpaksa harus berubah karena suatu masalah yang menimpa Abah. Anak-anak mereka, termasuk Euis (Zara JKT 48) dan Cemara atau Ara (Widuri Puteri), harus pindah sekolah dan menyesuaikan diri dengan keadaan barunya.
Sesuai latar lagu ikonik “Harta Berharga” yang dinyanyikan ulang oleh Bunga Citra Lestari, produser Anggia Kharisma menjelaskan bahwa film “Keluarga Cemara” mengangkat nilai-nilai kehidupan dari pengalaman sehari-hari. “Film ini menghargai kebersamaan keluarga sebagai harta yang paling berharga dan mengajak penontonnya untuk selalu bersyukur dalam keadaan apapun,” ujar Anggia.

Terpilihnya film “Keluarga Cemara” dalam program penayangan di JAFF merupakan kesempatan lebih awal untuk menyaksikan film ini sebelum nantinya tayang secara umum pada tanggal 3 Januari 2018.
Sebagai festival film terbesar di Indonesia, tahun ini JAFF turut diramaikan oleh 27 negara , yakni Australia, Bangladesh, Bhutan, Bosnia, China, East Timor, India, Indonesia, Iran, Irak, Israel, Italia, Jepang, Kazakhstan, Kyrgyztan, Malaysia, Myanmar, Nepal, Philipina, Singapura, Korea Selatan, Srilanka, Switzerland, Taiwan, Thailand, Vietnam, dan USA .

Mari ikut bergabung dengan JAFF di Yogyakarta dan rayakan identitas kita melalui sinema Asia.

Jakarta, 12 November 2018 — Film Hit N Run memang baru memasuki tahap shooting, namun film produksi Screenplay Productions ini rupanya sudah banyak memancing rasa penasaran publik, terlebih film ini dibintangi sederet bintang ternama yaitu Joe Taslim, Tatjana Saphira, Jefri Nichol, Chandra Liow, dan Yayan Ruhian.

This slideshow requires JavaScript.

Keakaraban dan keseruan para pemain film Hit N Run sudah diperlihatkan selama menjalani proses reading dan shooting, baik Joe, Tatjana, Chandra Liow dan Nichol rajin mengupdate kegiatan mereka di sosial media.
Baru-baru ini muncul beragam meme viral Chandra Liow yang tengah menggendong Jefri Nichol di punggungnya. Ekspresi Chandra dan Nichol penuh iba, terlihat seperti orang menangis, tak pelak banyak netizen yang mengedit foto mereka dan hasilnya pun menjadi sangat lucu.

Meme keduanya jadi ramai di media social Instagram, berikut adalah sebagian diantaranya. Keseruan aksi laga dan komedi menjadi hal yang ditawarkan dalam film Hit N Run, tentu saja film ini akan membuat pecinta film Indonesia penasaran. Dalam waktu dekat sinopsis mengenai film Hit N Run akan diumumkan oleh Screenplay Productions. Rencananya, film Hit N Run akan dirilis pada 2019.

Film Foxtrot Six yang akan tayang di tahun 2019 adalah sebuah proyek yang telah lama dipersiapkan oleh Randy Korompis. Randy, sutradara muda sudah memulai proyek ini dari tahun 2010. Setelah melalui perjalanan panjang, ia berhasil mewujudkan mimpinya dan bersiap menayangkannya ke publik.

This slideshow requires JavaScript.

Sebagai seorang pencinta film aksi, Randy telah lama memendam keinginan untuk membuat film yang dapat memenuhi kemauannya. Bermodal sedikit pengalaman dan peralatan yang terbatas, ia menggarap trailer sederhana dari Foxtrot Six. Tanpa punya budget, ia mengajak Oka Antara, Mike Lewis, Verdi Solaiman, dan Arifin Putra untuk ambil bagian. Jadilah proyek tersebut.

Beberapa tahun setelahnya, Randy masih yakin dengan proyeknya. Hingga suatu hari, ia dipertemukan dengan Mario Kassar, produser legendaris yang melahirkan Rambo dan menggarap Terminator. Nama ini sungguh tak asing bagi Randy karena ia sering melihatnya di banyak film-film yang ia sukai.

Pertemuan dengan Mario terbilang unik. Randy yang sedang liburan di Los Angeles, bertemu dengan temannya yang seorang koki. Ternyata koki ini mempunyai nomer Mario Kassar. Koki ini pun menghubungkan Randy dengan Mario. Tanpa banyak pikir, Randy memberanikan diri untuk mempresentasikan proyeknya. Gayung bersambut, Mario ternyata menyukai visi dari Randy.

Kini film Foxtrot Six benar-benar telah diproduksi. Keempat aktor yang sebelumnya membantu Randy di proyek kecilnya kini kembali ikut. Oka Antara, Mike Lewis, Verdi Solaiman, Arifin Putra, bergabung bersama Rio Dewanto, Chicco Jericho dan Julie Estelle untuk tampil di Foxtrot Six yang siap tayang di bioskop tahun 2019. Film Foxtrot Six adalah film action Indonesia berkualitas internasional. Dengan penggarapan dilakukan orang Indonesia dengan standar Hollywood. Selain deretan bintang yang cemerlang, dari tim balik layar ada nama Andrew Juano (Walking Dead, Life of Pi) untuk pengerjaan VFX. Lalu Andi Wijaya dan tim Lumine Studio untuk pengerjaan CGI.

Jakarta, Oktober 2018 – Spekulasi mengenai penggarapan film Si Buta dari Gua Hantu sejak Agustus tahun lalu akhirnya terjawab sudah. Rumah produksi Screenplay Films bersama Bumilangit Studios secara resmi mengumumkan akan mengangkat tokoh legendaris Indonesia itu ke layar lebar dengan judul Si Buta dari Gua Hantu. Dalam proses pembuatan filmnya, Screenplay Films dan Bumilangit Studios menunjuk Timo Tjahjanto sebagai sutradara dan penulis skenario film Si Buta dari Gua Hantu

This slideshow requires JavaScript.

Menilik sejarahnya, Si Buta dari Gua Hantu merupakan mahakarya dari salah satu maestro cerita bergambar Indonesia, Ganes Thiar Santosa. Walaupun komikus yang lebih dikenal dengan nama Ganes TH ini sudah banyak mengeluarkan karya lainnya, namun komik ini menjadi pelopor komik silat Indonesia. Sejak pertama kali terbit pada tahun 1967, Si Buta dari Gua Hantu menimbulkan demam silat khas nusantara dan menginspirasi banyak komikus untuk berkiprah di genre ini. Si Buta dari Gua Hantu juga menjadi salah satu intellectual property karya anak bangsa yang paling banyak diadaptasi ke dalam media layar kaca dan layar lebar.

Setelah hadir dalam 21 judul komik, 7 judul film layar lebar, dan 2 judul sinetron, kini Si Buta dari Gua Hantu akan kembali ke layar lebar lewat tangan dingin Timo Tjahjanto. Dalam versi kali ini, skenario Si Buta dari Gua Hantu akan ditulis ulang dan dikemas secara modern, naskah inilah yang kemudian dipakai Timo di film ini. Nantinya Film Si Buta dari Gua hantu akan berpusat pada dua karakter utama yaitu Barda alias nama asli dari Si Buta dan Mata Malaikat, yang tak lain adalah musuh Barda.

“Nantinya film ini akan menjadi menjadi character origin of Barda. Begitu juga dengan Mata Malaikat, seorang villain yang kharismatik dan dia adalah pendekar legendaris. Kita membuat dua origin stories meskipun fokus pada karakter Barda,” kata Timo Tjahjanto.
“Kita akan menceritakan unsur penting dan menyentuh dimana Barda masih punya rasa kemanusiaan, ia bersahabat dengan Kliwon, monyetnya. Lalu Tongkat Barda yang terbuat dari batu granit bisa menjadi sangat kuat, lalu mengapa sampai Barda memakai baju ular. Meskipun ini film fantasi, tapi akan ada logika-logika yang kita gali,” lanjut Timo sedikit membocorkan filmnya.

Timo mengungkapkan , dalam pembuatan naskah film Si Buta dari Gua Hantu, ia meperbaharui visi dari Ganes TH untuk dibuat relatable dengan masa kini. Sebagai re-introduction kepada generasi sekarang, format komik digital di platform Facebook sudah dirilis oleh Bumilangit Comic Media dengan gambar dan cerita yang didasari oleh karya-karya sebelumnya. Komik karya penulis Oyasujiwo dan komikus Iwan Nazif ini bertujuan untuk mengantar penggemar baru dan long time die-hard fans ke film layar lebar, dan memperoleh penghargaan Comic of The Year di ajang Popcon Award 2018.

Sementara nama-nama aktor dan aktris yang terlibat dalam film Si Buta dari Gua Hantu masih dalam tahap seleksi dan masih dirahasiakan, film Si Buta dari Gua Hantu akan mengangkat tema utama PENDEKAR NUSANTARA. Proses pra produksi tengah berlangsung, shooting film ditargetkan untuk dapat dimulai pada bulan Maret 2019.

Penunjukkan Timo Tjahjanto di kursi sutradara tentu bukan tanpa alasan, ia memiliki sederet prestasi luar biasa di balik layar. Bersama Screenplay Films, sepak terjang Timo pun sangat gemilang. Pria berusia 38 tahun itu sukses menggarap Headshot (2016) dan Sebelum Iblis Menjemput (2018). Kedua film ini mendapatkan apresiasi di berbagai festival-festival film bergengsi dunia. Headshot mendapatkan penghargaan Grand Prix Nouveau Genre Award, kategori International Feature Film Competition di L’Étrange Film Festival Prancis 2016 sementara Sebelum Iblis Menjemput menyabet penghargaan sebagai film terbaik dalam kategori Midnight Xtreme di Festival Film Sitges Spanyol 2018. Teranyar, Timo sukses menjadi sutradara film original Netflix pertama dari Indonesia yakni The Night Comes For Us, film ini menjadi perbincangan positif di dunia perfilman melalui social media.

Timo Tjahjanto merupakan penggemar dan pembaca komik Si Buta dari Gua Hantu dan ia dipercaya men-direct film ini. Si Buta dari Gua Hantu menjadi karakter legendaris kedua dari Screenplay Films dan Bumilangit Studios yang diangkat ke layar lebar, setelah Gundala yang akan disutradarai Joko Anwar. Si Buta dari Gua Hantu mengawali kolaborasi Screenplay Films dan Bumilangit Studios dalam mengangkat kembali genre fantasy martial arts dalam genre pendekar.

MEDIA RILIS
SCREENPLAY FILMS
Screenplay Films adalah perusahaan produksi yang inovatif dan terus berkembang untuk menghasilkan film – film dengan berbagai genre. Sebagai bagian dari perusahaan Screenplay Productions yang telah lebih dahulu dikenal, Screenplay Films telah bekerja sama dengan aktor dan aktris, serta sutradara dan tim kreatif ternama di Indonesia, dalam memenuhi komitmennya menghadirkan film berkulitas yang dapat dinikmati oleh pecinta film Indonesia. Film perdana Screenplay Films, Magic Hour (2015) langsung mendapatkan posisi box office, kesuksesan yang sama diikuti film lainnya dengan genre yang bervariasi yaitu London Love Story (2016), I Love You From 38,000 FT (2016),Headshot (2016), Jailangkung(2017),

Sebelum Iblis Menjemput (2018), dan The Night Comes for Us (2018). Berdasarkan pencapaian tersebut, Screenplay Films terus meningkatkan produksinya berkolaborasi secara efektif dengan jaringan global untuk merilis film – film dan didistribusikan ke seluruh dunia.

BUMILANGIT STUDIOS MEDIA
Berdiri tahun 2003, Bumilangit Entertainment Corpora merupakan tonggak awal dimulainya sebuah ikhtiar untuk membangkitkan kembali budaya penceritaan komik bertema kepahlawanan di Indonesia. Saat ini Bumilangit menjadi sebuah perusahaan hiburan berbasis karakter terdepan di Indonesia yang mengelola pustaka karakter terbanyak, dengan lebih dari 1.100 karakter komik yang telah diterbitkan selama enam puluh tahun terakhir. Bumilangit Studios Media sebagai bagian dari keluarga besar Bumilangit memproduksi film animasi, film layar lebar, dan serial televisi berdasarkan pada kekayaan dan kedalaman cerita komik dari setiap karakternya.

Tentang Timo Tjahjanto
Timo Tjahjanto merupakan sutradara ternama di Indonesia. Bersama Kimo Stamboel, mereka dikenal dengan julukan ‘Mo Brothers”, Timo merupakan sutradara yang dikenal melalui karya-karyanya di genre horror. Film yang digarapnya kerap sukses dan memenangkan berbagai penghargaan.
Filmography:
– Takut: Faces of Fear (2008) – Segmen "Dara"
– Rumah Dara (2010)
– One Good Thing (2012)
– V/H/S/2 (2013) – Segmen "Safe Haven"
– Killers (2013)
– Headshot (2016)
– Sebelum Iblis Menjemput (May The Devil Take You, 2018)
– The Night Comes for Us (2018)
Awards:
– Nominasi Gold Hugo (Chicago International Film Festival, 2012)
– Nominasi Jury Prize (Molins de Rei Horror Film Festival, 2013)
– Nominasi Grand Prize of European Fantasy Film in Silver (Sitges – Catalonian International Film
Festival, 2013)
– Nominasi Audience Award (SXSW Film Festival, 2013)
– Nominasi Best of Puchon (Puchon International Fantastic Film Festival, 2009)
– Nominasi Best Director Citra Award 2016
– Honorable Mention di Fantaspoa International Fantastic Film Festival (2015) – with Kimo
Stamboel
– Grand Prix Nouveau, L’Etrange Film Festival Perancis 2016
– Midnight Xtreme Sitges Film Festival Spanyol 2018

Grinch, yang merupakan sosok makhluk goa dengan warna bulu hijau mencolok, dikenal sebagai si pembenci Hari Natal.

Padahal Natal sangat identik dengan kedamaian dan kasih abadi. Pastinya semua orang akan menyambut Hari Natal dengan penuh kebahagiaan. Tapi entah kenapa Grinch jadi satu-satunya makhluk yang membenci momen spesial ini. Atau mungkin memang hatinya sangat kecil hingga rasa kedamaian dan kasih tadi hilang atau luntur. Atau mungkin masa kecilnya yang kelam.

This slideshow requires JavaScript.

Namun ternyata ada satu hal yang membuat kebahagiaan para warga kota whoville, dimana Grinch menetap di sebuah goa tak jauh dari kawasan kota tersebut menjadi tidak sempurna bahkan terganggu.

Hal tersebut adalah karena keberadaan grinch di kota mereka. Grinch adalah sebuah makhluk aneh dengan tubuh penuh bulu dan berwarna hijau. Padahal selama ini, grinch hidup di gunung di kota tersebut. Namun tiap kali natal tiba, grinch turun dari gunung tempatnya tinggal dan mulai memasuki kota whoville.

Disanalah kemudian dia mengacaukan seluruh kado natal milik para warganya. Tidak cukup sampai disitu saja, para warga di kota tersebut selalu berusaha untuk mengusir grinch dari kota mereka tersebut.

Hingga kemudian, seorang gadis kecil bernama cindy Lou memergoki grinch yang sedang mengacaukan beberapa kado natal. Melihat wujud grinch yang menakutkan tentu saja membuat cindy Lou ketakutan. Ia kemudian mencoba berlari menghindarinya.

Hingga kemudian grich menyelamatkan Cindy Lou dari sebuah bahaya. Wujud yang dimiliki oleh grich memang mengerikan namun hatinya tulus dan juga baik. Akhirnya hanya cindy-lah yang tidak pernah takut untuk mendekati grinch. Grinch mulai membuka dirinya terhadap cindy, dan terungkaplah masa lalu yang dimiliki oleh grich. Ternyata semenjak kecil, grich sudah berada di kota whoville.

Cindy pun menyukai Grinch, gadis cilik ini punya niat untuk mengubah hati Grinch. Cindy berusaha menyentuh perasaan Grinch dengan kasih sayang.

BAGAIMANA THE GRINCH MENCURI CHRISTMAS!
SEJARAH SINGKAT
Theodor Seuss Geisel, yang diterbitkan dengan nama Dr. Seuss, pertama kali menciptakan Grinch untuk “The Hoobub and The Grinch,” sebuah puisi bergambar 32-garis yang berjaya di Redbook pada bulan Mei 1955. Dalam puisi itu, Grinch adalah penipu. orang yang membujuk The Hoobub, yang dengan senang hati mengantuk di bawah sinar matahari, untuk menukarkan matahari dengan seutas benang hijau.

Pada saat itu pada tahun 1955, Geisel, di usia 51 tahun, telah menulis, dengan Helen, istrinya, film dokumenter pemenang Oscar tahun 1947, Design for Death, tentang sejarah Jepang yang mengarah pada pemboman Pearl Harbor, telah menjadi ilustrator yang sukses untuk majalah dan telah menerbitkan lima belas buku, termasuk Dan untuk Berpikir Bahwa Saya Melihatnya di Mulberry Street, Yertle the Turtle dan Cerita Lain, dan Horton Mendengar Seorang yang! Tetapi tahun-tahun paling produktifnya, yang menghasilkan karya paling terkenal dalam karirnya, masih berada di depannya.
Pada awal 1957 ia baru saja menyelesaikan The Cat in the Hat, dan mulai mengerjakan apa yang menjadi Bagaimana Grinch Stole Christmas! Inspirasi Geisel untuk tokoh itu berasal dari tempat yang mengejutkan bahwa Natal sebelumnya: dirinya sendiri. “Saya sedang menyikat gigi pada pagi hari tanggal 26 Desember lalu ketika saya melihat wajah Grinch-ish yang sangat tajam di cermin,” dia kemudian mengatakan kepada Redbook. “Itu Seuss! Jadi saya menulis tentang teman asam saya, Grinch, untuk melihat apakah saya dapat menemukan sesuatu tentang Natal yang jelas saya sudah hilang. ”

Bagaimana Grinch Mencuri Natal! menceritakan kisah tentang orang yang pemarah yang tinggal di gua di Mt. Crumpet dengan anjingnya, Max. Dia umumnya menghindari orang-orang Whoville di lembah di bawah, tetapi setiap tahun perayaan Natal besar-besaran mereka, di mana semua “kebisingan, kebisingan, kebisingan, kebisingan,” terutama nyanyian mereka, mendorongnya untuk mengalihkan perhatian. Dia memutuskan untuk mencuri Natal, dan, menyamar sebagai Sinterklas pada Malam Natal, dia melucuti kota setiap mainan, trinket, pohon, dan jejak perada. Tapi, saat dia bergoyang dengan giringnya yang menjulang di atas Whoville pada pagi Natal, dia tidak mendengar suara tangisan, tetapi suara nyanyiannya. Kesadarannya bahwa Natal berarti lebih dari sekadar hadiah dan dekorasi yang membuat hatinya bertumbuh “tiga ukuran hari itu,” dan dia mengumandangkan jalannya kembali ke kota untuk mengembalikan semua hadiah dan hiasan liburan mereka dan untuk bergabung dengan perayaan.
Geisel menulis buku dengan cepat, dalam hitungan minggu. Menurut biografi tahun 1995, Dr. Seuss & Mr. Geisel, oleh Judith Morgan dan Neil Morgan, Geisel mengatakan itu adalah buku termudah dalam karirnya untuk menulis, tetapi dia berjuang dengan cara mengakhirinya dengan cara yang terasa universal dan sekuler. . “Aku memutuskan untuk mengeluarkan Grinch dari kekacauan,” kata Geisel. “Saya mengalami situasi di mana saya terdengar seperti pengkhotbah tingkat dua. Akhirnya, dalam keputusasaan, tanpa membuat pernyataan apa pun, saya menunjukkan Grinch dan Whos bersama di meja, dan membuat lelucon dari Grinch mengukir ‘binatang panggang.’ Saya telah melalui ribuan pilihan agama, dan kemudian setelah tiga bulan itu keluar seperti itu. ”
Diterbitkan oleh Random House pada tahun 1957, tahun yang sama dengan The Cat and the Hat, Grinch adalah buku Seuss pertama dengan seorang penjahat yang tampak sebagai protagonisnya, dan itu menjadi kesayangan kritis instan. “Bahkan jika Anda lebih memilih Dr. Seuss dalam suasana hati yang benar-benar antik, Anda harus mengakui bahwa jika ada moral yang harus ditunjukkan, tidak ada yang dapat melakukannya lebih riang,” tulis New York Times dalam ulasannya. “Pembaca tersapu oleh rima yang meletup-letup dan gambar-gambar lucu yang aneh sampai dia pincang dengan lega ketika Grinch mereformasi dan, seperti yang terakhir, melunak dengan perasaan yang baik.” Kirkus Review menyatakan karakter Grinch, “mudah Natal terbaik- cad sejak Scrooge. ”
Hampir satu dekade kemudian, buku itu diadaptasi menjadi TV khusus yang disutradarai oleh Chuck Jones, yang dibintangi oleh suara Boris Karloff sebagai Grinch dan The Narrator. Untuk yang istimewa, Geisel sendiri menulis lirik lagu Natal yang sekarang ikonik, “Selamat Natal,” dan yang klasik, “Kamu A Mean One, Mr. Grinch.”
Yang khusus pertama ditayangkan di CBS pada 18 Desember 1966, dan akan terus disiarkan di jaringan setiap Desember untuk 22 tahun ke depan, menanamkan Bagaimana Grinch Stole Christmas! ke dalam kesadaran nasional. Pada 2004, TV Guide memberi peringkat di bagian atas daftar 10 Pilihan Liburan Keluarga Terbaik. Selama bertahun-tahun, itu akan menjadi acara menonton tahunan bagi generasi-generasi keluarga, sebuah tradisi liburan baru yang menggembirakan yang juga berfungsi sebagai pengingat yang menyentuh tentang makna sebenarnya dari musim Natal: cinta, pengampunan, dan kebaikan.

Jakarta, 28 Oktober 2018 — Rasa penasaran mengenai first look dan siapa aktor utama film Gundala terjawab sudah. Kedua jawaban atas teka-teki tersebut telah diumumkan lewat perhelatan Indonesia Comic Con yang berlangsung di Jakarta Connvention Center (JCC) Senayan, Minggu 28 Oktober 2018.

This slideshow requires JavaScript.

Dalam acara yang turut dihadiri oleh sutradara Joko Anwar itu, first look film Gundala resmi diperlihatkan ke publik. First look berupa video tersebut diawali dengan memperlihatkan percakapan
Sancaka kecil dengan ayahnya. “Karena kalau kita diam saja melihat ketidakadilan di depan mata kita, itu tandanya kita bukan manusia lagi,” demikian penggalan pesan sang ayah kepada Sancaka kecil.
Kemudian scene selanjutnya menampilkan adanya perkelahian yang melibatkan banyak massa, sampai akhirnya kita melihat Sancaka ketika dewasa, dan di penghujung video ditutup dengan munculnya sosok Gundala mengenakan topeng dengan telinga berbentuk sayap sesuai ciri khasnya.

Sementara pemeran utama karakter Sancaka dalam film Gundala, seperti yang sudah muncul dalam first look dipercayakan kepada aktor kenamaan, Abimana Aryasatya. Penampilan fisik dan ilmu beladiri yang dimiliki Abimana dinilai pas untuk memerankan Sancaka alias Gundala yang notabene-nya adalah jagoan Indonesia, pembasmi kejahatan.

Tak hanya Abimana, sejumlah pemain lainnya turut diperkenalkan di Indonesia Comic Con 2018 adalah Muzakki, Tara Basro dan Bront Palarae. Joko Anwar masih belum menjelaskan tentang karakter mereka ber tiga. Nama – nama pemain dan karakter lainnya masih dirahasiakan sampai pengumuman selanjutnya.

Saat ini, belum banyak yang dapat disampaikan Joko Anwar, Abimana dan cast lainnya mengenai Gundala. Namun film aksi jagoan Indonesia ini nantinya akan menceritakan asal mula Gundala, dan bagaimana ia mengemban tanggungjawab menjadi jagoan Indonesia. Di tangan Joko Anwar, Film Gundala dijamin akan menjadi tontonan yang menarik sebab menawarkan karakter ikonik dan jalan cerita relatable yang dikemas secara milenial, terutama untuk menggaet penonton-penonton muda.

Proses shooting film Gundala saat ini masih berlangsung dan akan segera rampung dalam waktu dekat. Rencananya, Gundala akan dirilis di bioskop pada 2019 mendatang. Perilisan first look Gundala dan pengumuman pemeran utama mendapat sambutan positif para pengunjung di Empire Stage Indonesia Comic Con 2018, ditambah dengan banyaknya limited edition merchandise bisa didapatkan di booth Gundala, membuat film Gundala kian dinantikan masyarakat.

Hadirnya Gundala di layar lebar diharapkan dapat membuka jalan bagi ikon-ikon jagoan legendaris Indonesia lainnya untuk hidup dan dinikmati kembali.

About Joko Anwar
Joko Anwar, born January 3, 1976 in Medan, North Sumatera, has been enjoying commercial and critical success as writer and director. The first film that he wrote, Arisan! (2003) won numerous awards at home and abroad and was hailed as a groundbreaking movie in Indonesia. His directorial debut, Janji Joni (Joni’s Promise, 2005) was box office smash comedy and was highly praised by international critics.

His next film, the genre-bending Kala (2007) was named one of the best films of the year by Sight and Sound magazine who cited him as one of the smartest filmmakers in Asia. His third feature, Pintu Terlarang (The Forbidden Door, 2009) won top prize at Puchon International Fantastic Film Festival and internationally acclaimed. His next film, Modus Anomali (2012) broke out into international market and also won praises from critics. His A Copy of My Mind (2015) competed at Venice International Film Festival and Toronto International Film Festival in 2015. His first horror feature, Pengabdi Setan (Satan Slaves) broke record as the highest grossing Indonesian horror film of all time and was the highest grossing Indonesian film in 2017 and was sold to more than 42 countries and won the most awards in Indonesian equivalent of The Oscars. The film also recorded the highest grossing Indonesian film released in other countries including in Malaysia.

Filmography
Arisan! (2003), writer
Janji Joni (Joni’s Promise) (2005), writer/director
Jakarta Undercover (2006), writer
Kala (Deadtime) (2007), writer/ director
Quickie Express (2007), writer
Fiksi (2008), writer
Pintu Terlarang (Forbidden Door) (2009), writer/director
Modus Anomali (2012), writer/ director
A Copy of My Mind (2015), writer/ director
Pengabdi Setan (Satan's Slaves) (2017), writer/director
Awards:
– Piala Citra 2007 (Best Indonesian Screenplay)
– Piala Citra 2008 (Best Screenplay)
– Piala Citra 2015 (Best Director)
– Best Visual Achievement, New York Asian Film Festival 2007
– Best Film, Puchon International Fantastic Film Festival 2012
– Best Director, Terror Molins de rei Film Festival Spain 2012
– Best Director, Silver Awards for Film Craft, Citra Pariwara 2017

Produser Hollywood Mario Kassar terbang khusus ke Jakarta untuk mempersembahkan teaser terbaru Foxtrot Six di ajang kreatif IDEAFEST 2018.
Mario didampingi oleh sutradara Randy Korompis hadir bersama para pemeran Foxtrot Six menyampaikan proses kolaborasi dan kreativitas di balik film yang siap tayang 2019 nanti. Di kesempatan hari pertama IDEAFEST 2018 antusiasme peserta pun sangat tinggi untuk mengikuti sesi Ideatalk diskusi antar sutradara dan penulis Randy Korompis bersama Rio Dewanto dan Verdi Solaiman sebagai dua pemeran juga Kalvin Irawan perwakilan tim CGI yang hadir memaparkan pembuatan film yang mempunyai standar Hollywood.

This slideshow requires JavaScript.

Sementara itu di hari kedua tidak kalah meriahnya conference di sesi akhir IDEAFEST 2018 yang diisi oleh Mario Kassar, Randy Korompis, dan para pemeran seperti Oka Antara, Chicco Jericho, Rio Dewanto, Arifin Putra, Mike Lewis, dan Verdi Solaiman sangat ditunggu-tunggu kehadirannya. Pemutaran teaser trailer kedua Foxtrot Six berdurasi 59 detik pun diputar untuk pertama kalinya kepada publik serta mendapatkan sambutan luar biasa dari ribuan peserta yang telah menunggu kehadiran mereka.

Dengan konsep aksi yang belum pernah disaksikan sebelumnya di Indonesia, film ini memberikan cuplikan yang cukup menjanjikan. Film Foxtrot Six adalah film action Indonesia
berkualitas internasional. Pengalaman Mario Kassar sebagai produser film-film blockbuster Hollywood seperti Terminator dan Rambo dan terlibat mendukung proyek terbarunya Foxtrot Six secara khusus membawa kesan mendalam untuk peserta dan rasa bangga sekaligus terhadap tim Indonesia yang sudah bekerja menyiapkan Foxtrot Six ini.

Sebagai film dengan standar Hollywood, Foxtrot Six didukung pula oleh tim yang mumpuni. Untuk pengerjaan VFX dipercayakan kepada Andrew Juano (Walking Dead, Life of Pi). Lalu Andi Wijaya dan tim Lumine Studio untuk pengerjaan CGI. Juga Hiro Ishizaka untuk Sound Design (Rurouni Kenshin, Unforgiven). Film yang disutradarai dan ditulis oleh Randy Korompis ini adalah produksi dari Rapid Eye Pictures dan didistribusikan oleh MD Pictures.

Teaser trailer 59 detik sekarang dapat disaksikan melalui tautan berikut: bit.ly/TeaserFOXTROT2

Siapa yang tidak tahu Queen? Band yang satu ini merupakan salah satu grup musik legendaris yang sangat dihormati dan dikagumi di seluruh dunia. Queen adalah band rock yang fenomenal, di mana mereka memiliki ciri khas yang begitu menonjol dalam bermusik. Tidak hanya itu, Freddie Mercury dan kawan-kawan juga menjadi panutan di mana dalam bermusik, hal terpenting adalah seberapa besar passion-mu dalam menciptakan sesuatu. Lebih jauh, Queen tidak hanya dikenal dari lagu-lagunya saja, namun juga dari hal-hal lain seperti keberanian mereka dalam berinovasi, keberanian mereka untuk menunjukkan diri sendiri, dan warisan-warisan tersebut tentunya harus dituturkan dengan cara terbaik, yaitu lewat sebuah film besar.

This slideshow requires JavaScript.

“Now we’re four misfits who don’t belong together, we’re playing for other misfits. They’re the outcasts right at the back of the room. We’re pretty sure they don’t belong either. We belong to them.” – Freddie Mercury.

 

“Bohemian Rhapsody” adalah film yang menceritakan tentang perjalanan Queen dari awal mula terbentuknya band hingga ke penampilan luar biasa mereka di konser “Live Aid” pada tahun 1985. Penonton pada awalnya akan melihat masa-masa sebelum Freddie naik ke panggung “Live Aid”, kemudian cerita di-drag back jauh ke belakang di tahun 1970, saat Freddie masih bekerja di Bandara Heathrow, London. Freddie, yang memiliki nama asli Farrokh Bulsara ini, lalu datang ke sebuah pub di mana ia menonton penampilan dari sebuah band kampus yang digawangi oleh gitaris Brian May (Gwilym Lee) dan drummer Roger Taylor (Ben Hardy). Singkat cerita, Freddie masuk menjadi vokalis dan dimulai lah perjalanan band Queen.

Film ini secara jelas memberikan alasan kenapa Queen pantas disebut sebagai legenda. Hal tersebut ditunjukkan secara gamblang melalui penceritaan Freddie dan teman-temannya selama menulis lagu. Selain kita dapat mengetahui “behind the scene” dari lagu-lagu ikonik Queen yang biasanya ada dalam sebuah music-biopic, terdapat juga pelajaran yang bisa dipetik dari sana. Queen adalah band yang tidak terpaku pada formula tertentu. Bagi band yang satu ini, formula adalah sesuatu yang membosankan. Mereka kemudian bereksperimen dengan cara menggabungkan unsur rock dengan opera. Ya, opera. Jenis musik yang tidak hanya segmented, namun juga dianggap terlalu berisiko untuk ditampilkan. Mudahnya, radio mana sih yang mau memutarkan lagu opera untuk para pendengarnya? Tapi di situlah yang membedakan Queen dengan band lainnya. Mereka seratus persen yakin dengan apa yang dipilih, lalu melakukan hal-hal di luar batas agar keinginan tersebut dapat terwujud. Film tentunya menampilkan masa-masa ini, di mana para personel melakukan hal-hal aneh untuk menciptakan satu komposisi musik yang tidak biasa untuk lagu “Bohemian Rhapsody”.

Ketika lagu tersebut rampung, Queen menemukan masalah lainnya. “Bohemian Rhapsody” berdurasi enam menit yang terbilang panjang untuk diputar di stasiun radio. Studio tentu tidak setuju untuk menjadikan lagu tersebut sebagai lagu andalan. Kepala eksekutif EMI, Ray Foster (Mike Myers), bahkan bilang kalau “Bohemian Rhapsody” adalah judul yang aneh. Di saat itu penonton bisa mengambil pelajaran berikutnya, yaitu mengenai keteguhan memegang prinsip dalam bermusik. Bagi Queen, “Bohemian Rhapsody” adalah track unggulan, meski durasinya katanya terlalu panjang. Mereka saling bahu-membahu agar “Bohemian Rhapsody” tetap dijadikan track unggulan dari albumnya nanti. Balik lagi, bagi Queen, formula adalah sesuatu yang membosankan dan “Bohemian Rhapsody” jauh dari kata “formulaic”. Dari sana kita bisa memahami motivasi dari Freddie dkk sekaligus membuat kita jatuh hati kepada Queen. They’re such a legend, not just by their songs, but also by what they are fighting for.

Tidak lupa, film juga memasukkan unsur drama lewat penceritaan yang berkutat seputar tokoh Freddie Mercury. Selain kaitan Freddie dengan band, film turut menyorot kehidupan pribadi sang vokalis. Tujuannya jelas, yaitu agar kita dapat memahami lebih dalam seperti apa Freddie Mercury, salah seorang performer yang penampilannya sangat dicintai dalam sejarah musik dunia. Aspek akting memang paling menonjol pada bagian ini, di mana Rami Malek harus mendalami karakter Freddie. Meski jika dilihat dari segi fisik Rami terlihat lebih kecil dan ramping, tapi itu tidak menjadi halangan. Rami berakting dengan luar biasa sehingga kita dapat mengerti kenapa Freddie Mercury menjadi frontman dari Queen. Tidak hanya dianugerahi bakat menyanyi, Freddie juga adalah orang yang berani untuk bergerak maju ke depan. Freddie Mercury adalah orang yang membuat Queen tidak seperti band kebanyakan dan penampilan Rami Malek membuat film “Bohemian Rhapsody” tidak seperti music-biopic pada umumnya.

Setelah resmi mengumumkan penggarapan film Gundala pada April lalu, kini first look tokoh jagoan legendaris Indonesia itu akan segera dirilis ke publik. Kabar ini tentu cukup menggembirakan, terutama untuk penggemar komik Gundala sebab untuk pertama kalinya mereka akan segera mengetahui bagaimana tampilan perdana film jagoan favorit mereka – setelah 50 tahun menjadi ikon komik legendaris Indonesia.

This slideshow requires JavaScript.

Rumah produksi Screenplay Films, Bumilangit Studios dan Legacy Pictures bakal merilis first look film Gundala di acara Indonesia Comic Con, yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Minggu 28 Oktober 2018 pukul 13.00.
Sutradara sekaligus penulis skenario film Gundala, Joko Anwar hadir untuk berbagi informasi seputar film. Tak cuma kehadiran Joko, momen lain yang paling ditunggu tentu saja jawaban atas pertanyaan siapa aktor yang memerankan karakter Sancaka alias Gundala.
Pertanyaan mengenai siapa pemeran Sancaka sudah banyak membuat orang penasaran, terutama sejak Joko Anwar mengumumkan proyek film ke-7nya ini. Saat ini Gundala sudah memasuki tahap akhir shooting dan direncanakan akan tayang pada 2019. Para penggemar pun sudah tak sabar menantikan film Gundala di bioskop.

Joko Anwar dan aktor utama Gundala akan hadir dalam acara panggung Indonesia Comic Con 2018 dan mereka akan bercerita tentang film jagoan Indonesia ini. Film Gundala akan dikemas sebagai re-introduction untuk mengantar penggemar baru dan long time die-hard fans ke film layar lebar. Pegumuman first look dan main actor Gundala di acara Indonesia Comic Con dirasa menjadi momen yang pas. Bagi masyarakat milenial yang ingin tahu lebih banyak mengenai Gundala, bisa lebih mengenal sosoknya di acara Indonesia Comic Con nanti. Sedikit menelisik ke sejarahnya, Gundala lahir dari karya komikus Harya Suraminata, atau Hasmi. Dalam menciptakan tokoh Gundala, Hasmi terinspirasi oleh tokoh legenda Jawa, Ki Ageng Selo Sang Penangkap Petir.
Gundala mengalahkan musuh-musuhnya dengan sejumlah kekuatan istimewa yang bersumber dari petir. Sejak komik pertama kali terbit pada tahun 1969, Gundala langsung menjadi tokoh cerita gambar legendaris Indonesia sejak terbit hingga hari ini. Gundala telah rilis 23 judul hingga tahun 1982. Karakternya yang “merakyat” memberikan kedekatan dan kebanggaan tersendiri bagi para penggemarnya di Indonesia. Selain itu fenomena petir juga tidak asing lagi bagi bangsa Indonesia sebagai negara tropis dengan curah hujan yang tinggi. Bahkan menurut Geology.com, Indonesia adalah salah satu dari negara di dunia yang memiliki jumlah petir yang terbanyak dan masuk kategori unusual.

Lantas siapakah aktor yang memerankan Gundala? Bagaimana first look dan teaser trailer film Gundala? Semuanya akan tersaji dalam acara Indonesia Comic Con 2018 pada 28 Oktober jam 13.00 mendatang. Yang pasti Indonesia Comic Con 2018 akan menghadirkan banyak kejutan dari film Gundala. Die-hard fans dan penggemar Gundala di era milenial bisa langsung menyaksikan kejutan tersebut. Akan ada banyak limited edition merchandise yang juga bisa didapatkan di booth Gundala. So sempatkan waktu untuk datang ke Indonesia Comic Con 28 Oktober 2018.

“The El Royale is a bi-state establishment. You have the option to choose a room in either California or Nevada.”- Hotel Concierge.

Banyak yang bilang, genre crime-thriller adalah genre yang susah lakunya di Indonesia. Unsur misteri mungkin bisa membuat orang tertarik. Tapi, konflik yang tegolong berat, kemudian lika-liku ceritanya membuat film semacam ini sering dianggap membingungkan. Kalaupun nonton, mungkin banyak yang lebih memilih untuk nonton filmnya secara ilegal karena taruhannya lebih kecil (akuilah). Itu juga belum tentu ditonton sampai habis, biasanya nontonnya pun sambil dicicil.

Belum berhenti sampai di situ, genre crime-thriller juga punya risiko lain. Karena berkaitan erat dengan unsur “crime”, maka film menyertakan banyak hal berbau kekerasan, baik dalam bentuk verbal maupun fisik. Poin-poin tadi semakin membuat genre crime-thrillermenjadi genre yang segmented dan pada akhirnya, menjadi langka atau jarang dibuat.

Maka dari itu, salah satu cara studio untuk membuat film crime-thriller-nya menarik adalah, selain memiliki ide yang orisinil, juga diisi oleh bintang-bintang ternama. Film dibintangi oleh beberapa aktor dan aktris papan atas agar nilai jual jadi terdongkrak. Ikut bermainnya para bintang yang sedang naik daun tadi juga diharapkan dapat menjaring fans dari mereka yang notabene mungkin bukan penggemar crime-thriller.

 

This slideshow requires JavaScript.

‘Bad Times at the El Royale’ menjadi contoh yang bagus dalam hal memanfaatkan status kebintangan para pemainnya untuk kebutuhan film ber-genre crime-thriller. Butuh bukti? Well, banyak dari media lokal yang tidak menginformasikan tentang cerita film ketika “El Royale” pertama kali muncul di publik, melainkan mem-posting foto Chris Hemsworth yang tengah bertelanjang dada. Apakah itu bagus? Oh jelas. Setidaknya memancing awareness. Setelah itu baru dimunculkan karakter-karakter lain, lalu ceritanya sendiri seperti apa. “El Royale” berkisah tentang tujuh orang strangers yang menginap di hotel yang terletak di Lake Tahoe. Masing-masing dari mereka memiliki rahasia yang nantinya akan terbongkar dan bikin suasana hotel jadi mengerikan.

Karena ditulis dan disutradarai oleh Drew Goddard, poin pertama yang pasti akan disasar penonton saat menonton “El Royale” adalah ceritanya. Drew sendiri merupakan penulis yang brilian, dengan karya-karya seperti “The Cabin in the Woods”, “World War Z” dan “The Martian”, langsung disukai banyak orang. Jadi penasaran, apa lagi yang coba ia berikan. Benar saja, Drew langsung memberi warna yang kuat pada “El Royale” lewat batasan informasi cerita yang dibuat terbuka (omniscient narration). Melihat ada tujuh strangers di film, treatment ini terbilang tepat karena membuat film dapat bertutur secara menarik.

Kita tidak hanya melihat film dari sudut pandang satu orang saja, melainkan tujuh orang sekaligus. Ada saatnya kita “berkendara” bersama Laramie Seymour Sullivan (Jon Hamm), seorang agen vacuum cleaner yang karismatik. Kemudian kamera berpindah ke Darlene Sweet (Cynthia Erivo), seorang penyanyi yang sedang bersiap untuk pertunjukan. Ada lagi Father Flynn (Jeff Bridges), pastor yang mengunjungi El Royale gara-gara Ritz Carlton sudah penuh. Berlanjut ke Emily Summerspring (Dakota Johnson), wanita cantik yang tidak ramah sama sekali, dan karakter-karakter lain yang terlalu panjang untuk disebut di sini.

Omniscient narration ini terbukti membuat El Royale jadi greget. Ketika memasuki tahap konfrontasi, film menjadi sangat enak ditonton karena Drew bermain-main dengan point of view. FYI, salah satu keunggulan dari penggunaan teknik Omniscient Narration adalah terciptanya unsur ketegangan karena penonton mendapatkan akses informasi cerita dari banyak sisi. Sudut pandang bisa berubah dari orang A ke orang B, orang B ke orang C. Kita bisa mengetahui, melihat, dan mendengar perspektif dari setiap strangers yang ada di El Royale ketika terjadi turning point pertama.

Masa-masa mengasyikkan di mana kericuhan yang ada di sequence awal pada tahap konfrontasi tampil sederhana. Berkat pengolahan cerita, dibarengi dengan eksekusi apik dari editing, membuat kericuhan sederhana ini tampil seru dan tidak biasa. Penonton memang akan mengetahui apa yang akan terjadi, namun perlu diingat bahwa itu tidak diketahui para pelaku cerita. Hal inilah yang akan memancing ketegangan (suspense) secara maksimal.

Sayangnya, meski disuguhi second act yang keren, terdapat rasa kekurangpuasan. Tipikal film-film macam begini, pasti ada kalanya kita menganggap bahwa satu karakter akan menjadi karakter yang penting, di mana karakter tersebut akan menjadi aktor yang membuat cerita film memasuki turning point. Pertanyaannya, apakah tebakanmu benar? Belum tentu. Hal ini pasti akan menyangkut preferensi masing-masing, tapi mau bagaimana lagi, film sempat memunculkan harapan itu.

Harapan bahwa El Royale memiliki misteri yang sangat berbahaya. Harapan bahwa El Royale adalah karakter tersendiri yang memiliki maksud dan tujuan. Harapan bahwa misteri El Royale akan bersangkutan pada sesuatu yang berskala besar. Tapi hasilnya tidak begitu. Seperti yang sudah ditulis di atas, film lebih mengarah pada satu titik yang lebih sederhana, kemudian muncul karakter baru yang menandai third act.

Selain itu, cukup kecewa juga karena tidak terlalu kelihatan apa sih bedanya kamar-kamar yang berada di Nevada dan California. Film hanya menampilkan dualisme tersebut di dalam dialog, dan sedikit teknik pewarnaan yang bagus dalam salah satu scene. Harga kamar hotel yang berbeda rate, kemudian beberapa peraturan khas masing-masing wilayah, semua dilontarkan di dalam dialog saja. Tidak terlalu berefek pada cerita filmnya.

Satu-satunya hal menarik dari hotel ini sudah ditampilkan di dalam trailer. Itu pun cukup sampai di sana. Penonton akan kesulitan untuk menggali lebih dalam maksud sebenarnya dari penyebab dibuatnya setting itu. Mudahnya, Drew hanya ingin menampilkan jukstaposisi yang terjadi di sejarah Amerika pada tahun 60-an, di mana saat itu politik Amerika sedang berada di masa kelam, tapi di sisi lain bidang seni seperti musik dan film memasuki masa yang disebut oleh Drew sebagai “almost renaissance”.

 

Jadi, salah satu inspirasi dalam membuat El Royale adalah Cal Neva Lodge. Ini merupakan tempat singgah yang mewah, di mana sama-sama terletak di daerah Lake Tahoe. Di dalam filmnya diceritakan bahwa El Royale dulu disinggahi banyak bintang ternama, tapi sekarang sepi pengunjung. Sudah jatuh tertimpa tangga, lisensi judi untuk El Royale pun dicabut. Uniknya, jika merujuk kepada sejarah Cal Neva, pada tahun 1963 lisensi judi mereka juga dicabut akibat diketahui adanya keterlibatan bos mafia bernama Sam Gianca. Cal Neva sendiri pada tahun 50 dan 60-an menjadi tempat favorit yang selalu dikunjungi public figure.

Marilyn Monroe menghabisi minggu terakhir hidupnya di Cal Neva, sebelum ditemukan overdosis pada tahun 1962. Belum selesai, Cal Neva juga dikenal memiliki terowongan bawah tanah. Terowongan ini menghubungkan ruang pertunjukan dan bungalow, lalu memiliki beberapa pintu masuk yang berada di kantor Frank Sinatra, heliport, dan salah satu lemari yang ada di bungalow. Dengan latar tahun film El Royale yang berada di periode yang sama, sepertinya ini merupakan cara yang cerdas dalam memasukkan tributeberbentuk sejarah ke dalam film. Drew seperti menampilkan kisah Cal Neva, yang sekarang sudah jauh berbeda dibanding saat golden era-nya.

Untuk kembali memunculkan penuansaan 60-an khas Cal Neva Lodge, Drew membuat set yang kurang lebih mewakili bentuk aslinya. El Royale terlihat lebih ringkas, dengan satu bangunan utama yang berada di tengah. Kemudian, kita bisa melihat kamar-kamar yang terletak di kedua sisi. Yang satu terletak di negara bagian Nevada, yang satu lagi terletak di negara bagian California. Jika dibandingkan dengan Cal Neva yang memiliki heliport dan kolam renang, tentu ini tidak sebanding. Tapi setelah masuk ke dalam, mata akan dibuat takjub oleh berbagai furnitur dan production design El Royale yang tidak kalah kece.

 

Semua elemen yang ada bernuansa retro dengan warna dominasi coklat keemasan dan terlihat cantik ketika diambil oleh film. Mulai dari jukebox jadul yang memutar lagu-lagu klasik, area perapian yang menghangatkan ruangan, area bar dan lounge yang comfy, area resepsionis yang berlatar belakang display hewan-hewan liar, sampai satu bagian dari set yang memegang peranan penting di third act. Semua terlihat mengagumkan.

Penggambaran retro-klasik ini lalu didukung oleh aspek berikutnya, yaitu musik. Selain memutarkan lagu-lagu yang “era-appropriate” seperti “Hold On I’m Coming” dari Sam and Dave, kemudian “Hush” dari Deep Purple, “Bad Times at the El Royale” juga menciptakan lagu orisinil yang sesuai dengan karakter film. Salah satu yang menonjol adalah “This Old Heart of Mine” yang dinyanyikan oleh tokoh Darlene Sweet. Kepada awak media Drew mengatakan, lagu yang satu ini terbilang sulit untuk diciptakan hingga ke bentuk yang ia inginkan. Cynthia Erivo saja sampai diminta menyanyikannya hingga 27 kali. Beruntung, Cynthia merupakan seniman Broadway yang sangat berbakat. Penampilannya sama sekali tidak mengecewakan. Nyanyian Darlene membuat film jadi lebih catchy dan edgy sekaligus.

Belum cukup, musik sepertinya menjadi karakter kedelapan dalam El Royale. Ini terlihat jelas dari bagaimana Drew menulis lagu yang sesuai dengan konteks naratif. Contoh terbaik mengenai tanggapan tersebut adalah ketika tokoh Darlene dan Father Flynn sedang berada di ruangan yang sama. Secara cerdas musik dijadikan menyatu dengan cerita, karena ada satu hal yang menuntut Darlene dan Father Flynn untuk bekerja sama agar apa yang mereka sedang kerjakan tidak ketahuan oleh penghuni hotel yang lain.

 

Ide ini sungguh brilian karena selain dapat menyatukan musik dengan tuntutan narasi, “akal-akalan” Darlene dan Father Flynn juga menyertakan rasa baru ke dalam film yaitu sense of humor, yang dipertunjukkan dengan cara yang kelam. Selain itu, lagu “Twelve Thirty” dari The Mamas & The Papas, yang menjadi entrance song dari salah satu karakter terasa cocok dengan penokohan karakternya sendiri. Lagu “Hush” dari Deep Purple yang dipasang saat third act juga mewakili apa yang sedang terjadi.

Karena diambil dari pemikiran sang sutradara, wajar saja kalau banyak poin dari El Royale akan sulit didapat, apalagi bagi penonton awam. Ini bisa jadi bumerang karena bukan tidak mungkin bakal ada banyak orang yang tidak “ngeh” akan hal tersebut. Film ini tidak hanya sekedar berbicara tentang rahasia tujuh strangers yang dikemas secara menegangkan. Ada poin-poin tertentu, yang membuat ‘El Royale’ ternyata lebih wow dari yang kita asumsikan sebelumnya.

Memutuskan untuk tidak menelusuri sisi misteri terlalu dalam, cerita film tetap berada di koridornya dengan memasukkan referensi dari salah satu tempat historis, yang keberadaannya saja tidak diketahui banyak orang. Kemudian referensi tadi dipadukan dengan refleksi sang sutradara mengenai kondisi Amerika pada tahun 60-an. Musiknya ternyata juga bukan hanya penghias belaka. Selain cocok dengan latar waktunya, unsur musik membuat El Royale tampil layaknya film musikal karena kesesuaian lagu dengan pengadeganan. Pada akhirnya, kita lah yang merasa beruntung.

Film ‘Bad Times at the El Royale’ sudah bisa kamu tonton pada 26 Oktober 2018 di bioskop-bioskop terdekat di kota kamu.

 

Director: Drew Goddard

Starring: Jeff Bridges, Cynthia Erivo, Dakota Johnson, Cailee Spaeny, Jon Hamm, Lewis Pullman, Chris Hemsworth

Jakarta, 18 Oktober 2018 – Film terbaru dari duet romantis Jefri Nichol dan Amanda Rawles “Dear Nathan Hello Salma” akan hadir di bioskop seluruh Indonesia mulai tanggal 25 Oktober 2018. Drama remaja produksi Rapi Films ini merupakan sekuel dari “Dear Nathan” yang berhasil meraup lebih dari 700,000 penonton di tahun 2017 lalu.

This slideshow requires JavaScript.

Sekuel ini kembali disutradarai oleh Indra Gunawan yang telah sukses memenangkan hati ratusan ribu penonton melalui “Dear Nathan.” Kisah cinta yang diadaptasi dari novel karya Erisca Febriani ini sangat digandrungi para remaja sehingga sekuelnya menjadi sesuatu yang sangat ditunggu-tunggu.

Karisma dan kemesraan yang alami dari pasangan Jefri dan Amanda membuat cerita Nathan dan Salma hadir sebagai tontonan drama romantis yang sangat menghibur. Untuk menantang performa akting mereka, Rapi Films pun menghadirkan dua pemain baru, yakni Devano Danendra dan Susan Sameh.
Di dalam cerita lanjutan ini, Nathan (Jefri) dan Salma (Amanda) akhirnya bisa bersama karena mereka saling mencintai. Sayangnya, Ayah Salma tidak merestui cinta mereka. Perilaku Nathan yang sering keras kepala membuat Ayah Salma menjodohkan putrinya dengan Ridho (Devano).

Nathan dan Salma terpaksa berpisah. Sebuah insiden terjadi yang menyebabkan Nathan terpaksa pindah sekolah. Di sekolah barunya, ia berkenalan dengan Rebecca (Susan) yang kerap murung karena konflik perpecahan di dalam keluarganya. Nathan dan Rebecca pun berteman baik, tapi Nathan tak pernah berhenti memikirkan Salma. Demikian pula dengan Salma. Meski ia berusaha keras membiasakan diri dengan kehadiran Ridho, Nathan tetap menjadi sosok yang mengisi hatinya. Rebecca dan Salma tak sengaja bertemu di sebuah kelompok dukungan sebaya (support group) untuk para remaja yang sedang dalam masa susah. Persahabatan di antara kedua gadis ini pun terjalin, sampai akhirnya terungkap kalau Salma adalah sosok yang selama ini masih menjadi pujaan hati Nathan. Dengan segala halangan yang menghadang, bisakah cinta Nathan dan Salma bersemi kembali?

Meskipun dikemas sebagai drama romantis untuk remaja, film “Dear Nathan Hello Salma” sangat apik dalam membahas rumitnya masalah persahabatan dan percintaan. Selain kisah cinta segitiga antara Nathan, Salma dan Ridho, cerita persahabatan antara Rebecca dan Salma juga menjadi salah satu kunci yang membuat film ini menarik,” ujar Indra. “Di film sekuel ini, Nathan sampai harus keluar dan pindah sekolah demi mempertahankan keyakinannya. Tapi dia juga pantang menyerah memperjuangkan cintanya terhadap Salma dan terus belajar untuk jadi pribadi yang lebih baik di mata orangtua Salma,” kata Jefri.

Film ini juga dibintangi oleh Surya Saputra, Gito Gilas dan Karina Suwandi. Selain itu, Devano tak hanya menyumbangkan kemampuan aktingnya saja di film ini, melainkan juga tiga lagu dari album terbarunya yang berjudul “Ini Aku,” “Lovin’ U” dan “Menyimpan Rasa.”

Jajaran pemeran “Dear Nathan Hello Salma” telah banyak kegiatan promosi dan aktivasi di berbagai sekolah dan bioskop di Jakarta, Bekasi, Tangerang, Karawang dan sekitarnya. Setelah peluncuran filmnya di tanggal 18 Oktober, mereka akan mulai bergerak ke kota-kota lain seperti Bandung, Purwokerto, Yogyakarta dan Semarang.
Dapatkan keterangan lebih lanjut mengenai film “Dear Nathan Hello Salma” di akun resmi @dearnathanhellosalma_ofc dan @RapiFilms di Instagram.

This slideshow requires JavaScript.

Senin, 17 Oktober 2018 — Screenplay Films dan Legacy Pictures akan merilis film komedi terbaru berjudul Orang Kaya Baru The Movie. Film ini dibintangi oleh aktris Raline Shah dan Refal Hadi sebagai pemeran utamanya, sekaligus menjadi film komedi pertama bagi Raline. Skenario Orang Kaya Baru The Movie ditulis oleh Joko Anwar, sineas berbakat yang sudah melahirkan karya-karya film besar di Indonesia.

Orang Kaya Baru The Movie menjadi film pertama Screenplay Films dan Legacy Pictures yang mengusung genre komedi, sehingga kolaborasi pertama Screenplay Films dengan Raline Shah menjadi cukup spesial. Sebagai penulis, Joko Anwar membuat jalan cerita film Orang Kaya Baru dengan bumbu komedi yang fresh, dan skenario tersebut divisualisasikan melalui pengarahan yang pas oleh sutradara Ody C. Harahap.

Dalam kesempatan yang digelar pada sesi jumpa pers hari ini, Rabu 17 Oktober 2018, Screenplay Films juga mengumumkan jajaran pemain Orang Kaya Baru The Movie lainnya, diantaranya Derby Romero, Cut Mini, Lukman Sardi dan Fatih Unru.
Sesuai dengan judulnya yang cukup unik, film ini mengangkat tema cerita Kaya Mendadak yang dialami oleh sebuah keluarga yaitu seorang ibu yang diperankan Cut Mini, dan ayah diperankan Lukman Sardi yang memiliki tiga orang anak bernama Tika (Raline Shah), Duta (Derby Romero) dan Dodi (Fatih Unru)

Keluarga ini sebelumnya selalu menjalani kehidupan sehari-sehari mereka dengan serba apa adanya. Ketika sang ayah meninggal, barulah diketahui bahwa selama ini ia ternyata orang yang sangat kaya. Hartanya pun diwariskan kepada keluarga yang ia tinggalkan Uang kaget tersebut kemudian digunakan oleh istri dan anak-anaknya. Mereka yang tadinya hidup susah, kini menjadi orang kaya dadakan, mereka membeli rumah, mobil hingga barang-barang mewah lainnya. Segala kenorakkan dan tingkah laku mereka menjadi Orang Kaya Baru inilah yang akan menjadi jalan cerita menarik di film ini.

Proses shooting Orang Kaya Baru The Movie telah usai dan kini memasuki tahap pasca produksi. Rencananya Orang Kaya Baru The Movie akan segera dirilis pada 2019.

Materi diambil dari Youtube

Film aksi laga yang siap tayang awal 2019 “Foxtrot Six” akan berbagi cerita mengenai proses kolaborasi Indonesia dan Hollywood di ajang kreatif IDEAFEST 2018. Produser Mario Kassar, sutradara Randy Korompis, dan para pemeran seperti Oka Antara, Chicco Jericho, Rio Dewanto, Verdi Solaiman, Arifin Putra, Mike Lewis, dan Julie Estelle akan hadir.

“Foxtrot Six” akan tampil di dua tanggal yaitu 26 dan 27 Oktober 2018. Di hari pertama, para pemeran akan memberikan gambaran mengenai film yang siap tayang 2019. Di hari kedua, produser, sutradara, dan para pemeran akan menjelaskan tentang proses kolaborasi Indonesia dan Hollywood. Publik juga untuk pertama kalinya diperlihatkan video teaser 1 menit yang menunjukkan kualitas film.

IDEAFEST 2018 dirasa tepat untuk menjadi perkenalan “Foxtrot Six” kepada publik karena cocok dengan visi kreatif film yang diproduksi oleh Rapid Eye Pictures. “Foxtrot Six” bukan hanya tentang aksi laga dan efek visual kelas Hollywood, namun juga mempunyai kisah yang universal tentang seorang mantan prajurit yang hendak menyelamatkan kekasihnya bersama teman-temannya.

Hooq dan Telkomsel MAXstream memproduksi serial TV Brata – drama kejahatan yang penuh intrik, misteri, romansa dan mendebarkan

This slideshow requires JavaScript.

HOOQ layanan Video on Demand terbesar di Asia Tenggara, menghadirkan serial TV orisinal Indonesia pertama – Brata yang diproduksi bersama dengan perusahaan telekomunikasi terkemuka Indonesia, Telkomsel. Serial kejahatan menegangkan yang terdiri dari 6 episode dan dibintangi oleh Oka Antara ini hadir secara eksklusif hanya di HOOQ dan Telkomsel MAXstream.

MAXstream merupakan aplikasi one stop video portal Telkomsel yang menghadirkan ribuan konten video premium berupa film, serial TV maupun siaran langsung olahraga dari berbagai saluran video on demandmaupun TV lokal dan internasional. Hal ini juga membuat MAXstream sebagai marketplace bagi seluruh mitra penyedia konten video Telkomsel,  yang salah satunya adalah HOOQ. Pelanggan Telkomsel sendiri rata-rata menghabiskan waktu tiga hingga empat jam untuk menikmati konten video-on-demand HOOQ melalui MAXstream.

Berlatar belakang kota Jakarta sebagai salah satu kota metropolitan terbesar di dunia, Brata berkisah tentang seorang detektif berbakat bernama Brata yang memiliki masa lalu tragis. Brata dikenal dengan metodenya yang tidak biasa dalam mengungkap suatu kasus. Tangguh dan cerdas, Brata juga seorang yang penuh perhatian dengan daya ingat kuat sehingga Brata dengan metodenya berhasil memecahkan hampir semua kasus yang ditanganinya. Namun ia masih memiliki masalah pribadi yang belum dapat ia temukan jawabannya, salah satunya adalah identitas dari ayahnya.

“Menampilkan bintang-bintang terkenal dengan visual yang kuat untuk menciptakan drama bernuansa humanis sekaligus penuh aksi menegangkan, Brata diproduksi khusus untuk para pelanggan HOOQ dan MAXstream. Kami sangat bangga  dengan serial Indonesia pertama kami dan tidak sabar untuk menghadirkannya ke hadapan para pelanggan HOOQ di Indonesia,” ujar Jenifer Batty, Chief Content Officer HOOQ.

Sementara Crispin Tristram, Vice President Digital Lifestyle Telkomsel mengatakan, “Kami sangat senang dapat menjadi bagian dari kolaborasi yang luar biasa ini. Telkomsel secara konsisten mendukung pemberdayaan masyarakat Indonesia untuk terus mengasah bakat kreatif mereka dan menyediakan platform untuk menampilkan karya mereka ke hadapan publik yang lebih luas, termasuk pembuatan film. Hal ini sejalan dengan misi kami untuk mengembangkan ekosistem digital dalam memberikan pengalaman gaya hidup digital terbaik untuk pelanggan kami”

Selain itu, HOOQ adalah mitra strategis Telkomsel dalam memberikan layanan VideoMAX, paket berlangganan streaming video bulanan yang menawarkan hiburan video melalui pembelian paket data Telkomsel untuk pelanggan prabayar dan pascabayar. “VideoMAX adalah inisiatif utama dari Telkomsel dalam menyediakan berbagai layanan gaya hidup digital yang sesuai dengan kebutuhan parapelanggan”, tambah Crispin.

Guntur Siboro, Country Managing Director Indonesia, mengatakan “Sebagai HOOQ original series Indonesia pertama, tujuan kami adalah menyatukan talenta – talenta terbaik di seluruh industri film lokal dengan menghadirkan produksi yang berkualitas untuk kepuasan menonton bagi pelanggan kami. Kami bangga mengatakan kami telah lakukan hal itu dan saya yakin pelanggan HOOQ akan menikmati kisah Brata!.”

KRU BERTABUR BINTANG

Pemain berperan dalam menghidupkan visi dari para kru produksi. Pemenang penghargaan aktor terbaik di Indonesia Movie Awards 2017 Oka Antara berperan sebagai Brata. Sebelumnya ia bermain dalam film Killers, Sang Penari, The Raid 2, dan Foxtrot 6 yang akan segera tayang.

Series ini juga dibintangi oleh Laura Basuki, pemenang aktris terbaik (2010) di Festival Film Indonesia, Yayu Unru, pemenang Aktor pendukung terbaik (2017) di Festival Film Indonesia dan Bisma Karisma anggota Boyband SM*SH.

Para sineas berpengalaman dan berbakat di industri film bergabung untuk menyajikan kisah yang menegangkan dengan sisi gelap dan suram. ES Ito adalah pengarah dan penulis serial ini. Ia merupakan penulis dari #republiktwitter serta novel-novel thriller laris Indonesia seperti Negara Kelima dan Rahasia Meede. Series ini disutradarai oleh Kuntz Agus, Micheal Pohorly dan Aldo Swastia dan ES Ito bersama Isaac Zikri bertindak sebagai produser.

Serial ini diawali dengan keberhasilan Brata dalam menyelesaikan sebuah kasus penculikan dengan cara yang brutal dan tanpa ampun. Brata ditugaskan untuk menangani kasus baru dengan ditemukannya potongan-potongan tubuh di sebuah bangunan tua. Hasil lab menunjukkan bahwa bagian tubuh berasal dari lima korban. Bagaimana cara Brata memecahkan kasus ini ? Akankah lebih banyak korban ditemukan ? Siapakah pembunuh berantai berdarah dingin yang merenggut nyawa tidak berdosa ? Bersiap dan saksikan misteri yang tidak terpecahkan ?

Review

Stephanie Smothers (Anna Kendrick) adalah seorang ibu tunggal janda yang menjalankan sebuah vlog ibu dengan kerajinan dan resep. Belakangan, Stephanie membahas penyelidikan
dalam suatu kasus, dan perasaannya di sekitar menghilangnya sahabat karibnya, Emily Nelson (Blake Lively). Dalam kilas balik, Emily adalah Ibu yang sibuk bekerja, sebagai PR direktur perusahaan fesyen, yang putranya Nicky berada di kelas dasar yang sama dengan putra Stephanie, Miles. Emily dan Stephanie menjadi teman yang cepat memiliki waktu membicarakan kegiatan sehari-hari, dan koktail untuk diri mereka sendiri di rumah Emily.

This slideshow requires JavaScript.

Mereka bertukar pengakuan masa lalu mereka, dan Stephanie mengakui itu sebagai seorang remaja, setelah ayahnya meninggal, dia berhubungan seks dengan saudara tirinya, Chris (Dustin Milligan), yang Emily main-main menggodanya. Emily mengekspresikan rasa frustasinya karena tidak berhasil suaminya, Sean Townsend (Henry Golding), berkarir sebagai seorang penulis dan profesor Inggris, dan situasi keuangan mereka yang buruk. Suatu hari, Emily mengalami krisis kerja dan meminta Stephanie untuk mengasuh Nicky sepulang sekolah, yang dengan senang hati dia lakukan karena  Sean ada di London.

Setelah 2 hari Emily tidak menanggapi panggilan, Stephanie menelepon majikannya, Dennis Nylon, dan mereka memberitahunya bahwa dia ada di Miami selama beberapa hari. Stephanie juga
memanggil Sean, yang ternyata dia pernah menghilang juga di masa lalu, dan mereka memanggil polisi.
Saat berbicara dengan detektif, Sean menyebutkan bahwa Emily tidak memiliki keluarga, sementara
dia sebelumnya mengatakan pada Stephanie bahwa dia memiliki saudara perempuan. Stephanie pergi ke Markas Dennis Nylon dan menyelinap ke kantor Emily dan menemukan foto dirinya, diberi judul “Gotta Have Faith,” dan menggunakannya untuk membuat poster orang hilang.
Detective Summervile (Bashir Salahuddin) melaporkan kepada Sean bahwa Emily berbohong tentang melakukan perjalanan ke Miami, dan bukannya menyewa putih Kia di Michigan. Seorang penggemar laporan vlog Stephanie melihat Emily di Michigan, dan mobil itu ditemukan di dekat perkemahan musim panas, Squaw Lake Bible Camp. Polisi menemukan tubuhnya yang tenggelam di dalam air. Stephanie dan Sean mengembangkan ikatan melalui kesedihan dan merawat dari anak laki-laki, yang berubah menjadi hubungan dan Stephanie pindah bersamanya. Detective Summervile kemudian mengungkapkan pada Stephanie itu Emily mengalami kerusakan hati yang parah, sejumlah besar heroin dalam sistemnya, dan bahwa Sean baru-baru ini mengeluarkan $ 4 juta kehidupan dolar polis asuransi Emily.
Film inipun penuh dengan misteri dan sangat bagus untuk di tonton. Sebuah hiburan misteri satir yang diracik sangat apik dan bagus.

 

This slideshow requires JavaScript.

FFI Memasuki Babak Baru

Jakarta, Oktober 2018 – Sejak pertama kalo diselenggarakan pada 1955, Festival Film Indonesia 9FFI) digagas sebagai barometer perkembangan kualitas perfilman Indonesia. Melalui berbagai penghargaan yang diberikan, publik dan kalangan perfilman sendiri bisa membaca pencapaian terbaik yang dihasilkan pekerja film tanah air selama setahun terakhir.

Dalam perkembangannya dari tahun ke tahun FFI menghadapi banyak tantangan, namun dari waktu ke waktu pula penyelenggaraan FFI terus diperbaiki. Untuk mengembalikan gagasan awal penyelenggaraan FFI tersebut, pada waktu-waktu tertentu khususnya ketika perubahan atau perkembangan situasi memerlukan, dibutuhkan perbaikan yang lebih strategis atau paradigmatik.

Mulai tahun ini FFI akan memasuki babak baru. Dari semula program penghargaan tahunan, FFI kini menjadi sebuah entitas yang beroperasi sepanjang tahun dan kerjanya berfokus pada usaha-usaha meningkatkan kualitas film Indonesia untuk memperkuat sisi budaya dan estetika film.

Melalui Surat Keputusan (SK) Ketua Umum BPI, telah dibentuk Komite FFI (Festival Film Indonesia) dengan masa kerja tiga tahun (2018-2020). Komite FFi diketuai Lukman Sardi dengan anggota pengurus: Catherine Keng (Sekretaris), Edwin Nazir (Keuangan & Pengembangan Usaha), Lasja F. Susatyo (Program), Nia Dinata (Penjurian), dan Coki Singgih (Komunikasi).

Komite FFI akan menjadi entitas baru, melengkapi entitas yang sudah lebih dahulu ada, untuk bersama-sama melakukan pemajuan perfilman Indonesia. Sebagaimana diketehui, sudah ada Pusat Pengembangan Perfilman Kemendikbud (pembinaan), Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (pengembangan ekosistem), Lembaga Sensor Film (perlindungan masyarakat), Badan Perfilman Indonesia (peran serta masyarakat), Lembaga pendidikan (kajian dan pendidikan), asosiasi profesi (peningkatan profesionalisme), komunitas (pengembangan potensi masyarakat), bioskop/ruang putar (distribusi), media (apresiasi dan promosi), LSP Kreator Film (sertifikasi kompetensi), Akatara (pembiayaan perfilman), Komisi Film Daerah (layanan syuting), dan lain sebagainya.

Penjurian menjadi sebuah sistem yang mampu menetapkan secara tepat film dan kerja artistik yang seharusnya dijadikan tolok ukur pada masanya. Tiga kriteria yang digunakan sebagai dasar penilaian adalah gagasan tema, kualitas estetika, serta profesionalisme. Untuk mewujudkan hasil terbaik dari sistem tersebut, penjurian melibatkan partisipasi aktif asosiasi profesi dan komunitas melalui proses seleksi internal. Bentuk penjurian ini dimaksudkan juga agar ke depannya terjadi penguatan kelembagaan serta profesionalisme asosiasi profesi dan komunitas yang ada.

Tahapan penjurian oleh asosiasi profesi dan komunitas akan berlangsung 2-25 Oktober 2018. Pengumuman nominasi direncanakan 6 November 2018. Selanjutnya pemenang Piala Citra FFI 2018 diumumkan dalam Malam Anugerah pada Desember 2018. Sebagaimana sebelumnya, seluruh proses penjurian dilakukan di bawah pengawasan publik independen, Deloitte Consulting.